Kedatangan ketiganya untuk meninjau kesiapan daerah tersebut dalam menyambut Annual Meeting IMF dan Bank Dunia di Bali, Oktober mendatang.
Banyuwangi telah ditunjuk oleh pemerintah pusat menjadi daerah penyangga Bali dalam ajang yang diikuti 18.000 delegasi dari ratusan negara itu. Sebagian delegasi penting dari berbagai negara dijadwalkan mendarat di Bandara Banyuwangi.
Luhut dan rombongan diberi udeng alias penutup kepala khas Suku Using, masyarakat asli Banyuwangi. Adapun Menkeu Sri Mulyani dikalungi scarf batik khas Banyuwangi. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas hadir menyambut rombongan.
Luhut dan rombongan kemudian berkeliling menyusuri terminal Bandara Banyuwangi yang baru saja beroperasi setelah sekitar dua tahun dibangun. Bandara tersebut diklaim sebagai bandara berkonsep hijau pertama di Indonesia.
Saat mendampingin ketiganya, Bupati Banyuwangi Anas menjelaskan, terminal bandara itu dibangun menggunakan APBD Rp45 miliar. Sebagian besar bahan yang digunakan adalah kayu bekas.
Terminal bandara mengedepankan konsep rumah tropis dengan penghawaan alami, sehingga nyaris tanpa AC. Desain interior minim sekat untuk menjamin sirkulasi udara dan sinar matahari. Hampir setiap sudut terminal dikelilingi kolam ikan untuk mengoreksi tekanan udara, sehingga suhu ruang tetap sejuk.
"Terminal bandara ini mengadopsi kebudayaan lokal dengan mengusung kekhasan masyarakat Suku Using dalam arsitekturnya. Sehingga ini bukan hanya bandara, tapi landmark baru yang menarik wisatawan," ungkap Anas dalam pemaparannya.
Mendengar penjelasan tersebut, Luhut, Sri Mulyani, dan Agus Martowardojo pun terpukau. Luhut dan Sri Mulyani cukup kaget karena tidak menyangka dana yang dikeluarkan cukup murah untuk membangun bandara dengan hasil yang sangat baik.
[nes]
BERITA TERKAIT: