Menurut Wello, gerakan tanam serentak padi dan jagung di atas lahan seluas 1.800 hektare, di mana 600 hektare diantaranya adalah lahan sawah, melibatkan berbagai unsur kelompok tani, TNI/Polri, ASN, ormas dan pelajar/mahasiswa.
"Penanaman dilakukan di Pulau Lingga dengan melibatkan mahasiswa STPP Malang, STTP Bogor dan STTP Medan sebanyak 248 orang dan dosen pembimbing sebanyak 52 orang. Serta mahasiswa D1 IPB sebanyak 105 orang," kata Wello dalam keterangannya, Senin (19/2).
Mantan ketua DPRD Lingga itu berharap gerakan percepatan panen dan tanam serentak mampu memberi energi baru bagi kebangkitan sektor pertanian Kabupaten Lingga, khususnya di Bumi Bunda Tanah Melayu menuju Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor (LPBE) di wilayah perbatasan.
"Ini adalah momentum untuk membuktikan bahwa Lingga yang selama ini dikenal sebagai daerah kepulauan dengan kultur masyarakatnya sebagai nelayan mampu bangkit dan menjadi daerah penyangga kebutuhan pangan di wilayah perbatasan. Jadi, kita tidak lagi bergantung pada pasokan pangan impor," jelasnya.
Di era kepemimpinan Wello, sektor pertanian menjadi program unggulan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Lingga dengan target 100 hari kerja mencetak sawah seluas 34 hektare. Akhirnya, ketika Menteri Pertanian Amran Sulaiman datang pada 7 September 2016 untuk melakukan penanaman padi, Kabupaten Lingga mendapat berkah dengan menerima bantuan cetak sawah baru seluas 4000 hektare dari 10 ribu hektare potensi sawah baru yang dapat dibuka.
Pemkab kemudian mengkonsolidasikan semua potensi yang dimiliki. Dengan program Agrominapolitan, Lingga hingga saat ini sudah memiliki 700 hektare lebih sawah, dan hari ini mulai dilakukan tanam serempak padi dan jagung di beberapa lokasi yaitu Kecamatan Lingga Utara dan Kecamatan Lingga Timur. Sedangkan panen yang dilakukan pada lahan demplot BPTP Kepulauan Riau seluas 6 hektare dengan enam varietas baru, spesifik lokasi dengan produktivitas 5 ton GKP.
"Kami sangat berbangga dengan berbagai program Kementerian Pertanian, sungguh kami berterima kasih kepada menteri pertanian yang memotivasi kami dengan kata 'tidak ada yang tidak mungkin". Kata-kata tersebut membuat kami yakin haqul yaqin Kabupaten Lingga akan menjadi produsen beras di ujung selatan Kepulauan Riau," papar Wello.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Mat Syukur mengaku kagum dengan kondisi Kabupaten Lingga sekarang.
"Selama ini mendapatkan cerita Lingga hanya dari presentasi menteri pertanian di berbagai forum pertemuan besar yang terkait dengan upaya membangun lumbung pangan di wilayah perbatasan. Ternyata apa yang selama ini saya dengar benar adanya," ujarnya.
Menurutnya, Lingga memiliki potensi sangat besar, bukan hanya sisi produksi tetapi yang lebih menjanjikan adalah pintu ekspor komoditas pertanian di Kepri.
"Dari sisi potensi dan produksi dengan komitmen masyarakat tani di Kabupaten Lingga, ke depan capaian akan lebih baik dan Kementerian Pertanian akan terus mendukung Kabupaten Lingga dalam upaya mencapai kemandirian pangan bagi penduduknya dan sebagai lumbung pangan Kepulauan Riau," jelas Mat Syukur.
Pada tahun ini, Kementan mengalokasikan pencetakan sawah dari APBN seluas 2.000 hektare. Bila pekerjaan itu selesai maka akan ada lahan sawah seluas 2.600 hektare.
"Dari semula Lingga yang selalu impor beras akan dapat mencukupi kebutuhan pangannya dan bahkan dapat memasok pangan ke wilayah lain. Di samping sawah tersebut juga memiliki potensi lahan kering untuk tanaman perkebunan seperti lada. Ini merupakan aset sektor pertanian ke depan yang harus dikembangkan," demikian Mat Syukur.
[wah]
BERITA TERKAIT: