217 Warga Teluk Jambe Masih Ditampung PP Muhammadiyah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Selasa, 21 Maret 2017, 09:51 WIB
217 Warga Teluk Jambe Masih Ditampung PP Muhammadiyah
Foto: RMOL
rmol news logo Ratusan warga Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat, yang berkonflik dengan perusahaan pengembang PT Pertiwi Lestari masih terus memperjuangkan nasib mereka.

Sebanyak 217 warga Teluk Jambe kini tinggal di Masjid Al Istiqomah Wa Hayatuddin setelah sebelumnya ditampung oleh PP Muhammadiyah di Masjid Muhammadiyah Cikini, Jakarta Pusat.

Beberapa warga Teluk Jambe bercerita bahwa ada di antara mereka dikriminalisasi karena perjuangan ini.

Mereka menyadari melawan kekuatan kapital, namun tetap berjuang memperoleh keadilan atas lahan dan rumah miliknya yang digusur paksa.

Seperti dialami Rahman. Ia baru saja menghirup udara setelah lima bulan mendekam di balik jeruji besi lantaran dituduh terlibat melakukan pengeroyokan terhadap sekuriti PT Pertiwi Lestari.

"Pokoknya kami dituduh segala macam. Ada yang mau nyambung kabel listrik, karena sengaja diputus oleh mereka (developer), ditangkap juga dituduh mau mencuri. Baru delapan orang yang keluar, tiga lagi masih di penjara," kata Rahman kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (22/3).

Warga Teluk Jambe menjerit hingga ke ibukota karena tiap hari diintimidasi oleh pihak pengembang dengan ancaman lahan dan rumah mereka dibuldoser paksa.

Sejauh ini, warga Teluk Jambe sudah dua kali berdemonstrasi di depan Istana Negara. Sebelumnya juga mereka telah menemui mulai dari kepala desa, camat, bupati, hingga Polres Karawang.

"Nggak ada yang peduli dengan kami. Kami terus yang kena. Semua jalur sudah kami lalui, ya akhirnya jalan ke pusat," tutur seorang warga Teluk Jambe lainnya.

Nasib tak jauh berbeda juga diceritakan Emak Ani, yang mengaku kepalanya sempat dipukul dengan pentungan oleh sekuriti PT Pertiwi Lestari.

Saat itu lahan miliknya didatangi puluhan orang berseragam sekuriti. Ia bersama sembilan perempuan warga Teluk Jambe lainnya berupaya bertahan. Nahas, sekuriti memaksa masuk dan menghantam kepalanya dengan pentungan.

"Padahal kita diam aja. Mereka sengaja bikin bentrok, terus pukul pakai pentungan. Akhirnya kita mundur karena mereka pake kekerasan," kata dia.

Bentrok antara warga dengan aparat keamanan termasuk Polres Karawang kerap terjadi di Teluk Jambe. Beberapa warga bahkan terpaksa kabur dan lari ke hutan selama tiga hari tiga malam karena dikejar aparat Polres Karawang.[wid]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA