Sejak tahun 1957, keduanya saling berkompetisi untuk dapat menguasai luar angkasa. Mulai dari pengembangan sistem roket, mengorbitkan satelit, mengorbitkan manusia di atas atmosfer Bumi hingga mengirim manusia ke Bulan berhasil dilakukan dalam masa perang dingin tersebut. Akhir perlombaan luar angkasa mulai terasa ketika Amerika berhasil mendaratkan manusia di permukaan Bulan.
Respon masyarakat atas keberhasilan mendaratkan manusia di Bulan tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi negeri Paman Sam. Hampir-hampir seluruh media saat itu menyorot pendaratan manusia di Bulan dan menjadikannya headline di setiap surat kabar maupun televisi. Namun demikian, selang setelah Amerika melakukan perjalanan luar angkasanya pada misi Apollo 14, masyarakat justru menilai bahwa penjelajahan luar angkasa dengan mengirimkan manusia ke Bulan hanyalah misi yang membuang-buang uang negara. Sehingga pada 1972 misi Apollo 17 menjadi misi terakhir bagi pengiriman manusia ke Bulan.
Belakangan ini konspirasi tentang berakhirnya misi Apollo 17 yang menutup proyek pengiriman manusia ke Bulan menjadi hal hangat untuk diperbincangkan. Berbagai pertanyaan muncul, benarkah misi Apollo 17 pada 7 Desember 1972 merupakan misi terakhir pengiriman manusia ke bulan? Jika iya adakah misi penjelajahan Bulan yang dilakukan manusia setelah Apollo 17? Lalu, jika penjelajahan Bulan saat itu terus berlangsung mengapa NASA (The National Aeronautics and Space Administration) tidak mengirimkan manusia kembali ke Bulan? Dan mengapa misi tersebut menjadi misi terakhir? Benarkah bahwa para astronaut Apollo 17 melihat Alien yang berbahaya sehingga program Apollo dihentikan?
Misi Apollo 17 memang benar adanya menjadi misi terakhir bagi program Apollo, sekaligus misi terakhir bagi pengiriman manusia ke Bulan. Namun, misi Apollo 17 bukanlah misi terakhir bagi penjelajahan Bulan yang dilakukan oleh manusia atau Penjelajahan Tanpa Awak (Unmanned Space Mission). Pada 1973, Rusia dan Amerika sebagai negara adidaya masih melanjutkan misi penjelajahan Bulan yaitu dengan mengirimkan misi tanpa awak menggunakan robot. Misi tersebut adalah misi Luna 21 yang dilakukan Rusia, dan dua misi penjelajahan yaitu Explorer 49 dan Mariner 10 oleh Amerika. Misi Luna 21 terbang pada 8 Januari 1973 dengan tujuan mengambil citra permukaan Bulan dari jarak dekat dan berlangsung selama tujuh hari. Misi selanjutnya Explorer 49 yang terbang pada 10 Juni 1973 dan dilanjutkan misi Mariner 10 yang terbang pada 3 November 1973. Selepas ketiga misi tersebut, penjelajahan Bulan terus berlanjut. Hingga saat ini sudah lebih dari 100 misi penjelajahan Bulan tanpa awak dilaksanakan oleh banyak negara.
Jika kita melihat kembali sejarah NASA merencanakan program Apollo, NASA sesungguhnya merencanakan program Apollo mulai dari misi Apollo 1, 4, 5 hingga Apollo 20. Selama berlangsungnya space race, Amerika pernah mengalami kekalahan dua kali dari Soviet. Pukulan keras dimulai ketika Yuri Gagarin berhasil menjadi manusia pertama yang mengorbit Bumi dalam misi Vostok 1. Kekalahan tersebut menjadi pemicu bagi presiden JF Kennedy untuk melakukan pendaratan manusia pertama kali di Bulan oleh bangsa Amerika. Sebagai negara adidaya tentu Amerika tidak ingin kalah dari Soviet. Pada 18 Maret 1965, Soviet kembali mengalahkan Amerika dengan keberhasilannya melakukan space walk oleh Alexei Leonov pada misi Voskhod 2.
Seperti dilansir
Kafeastronomi.com, sepanjang 1961-1966 terjadi peningkatan anggaran belanja NASA untuk program Apollo yang naik drastis dengan puncak anggaran tertinggi pada tahun 1966. Awal mula biaya program Apollo hanya USD 7 miliar, namun kekalahan atas Soviet melambungkan anggaran belanja NASA hingga USD 20 miliar. Dalam satu kali penerbangan manusia pulang pergi Bumi-Bulan pada misi Apollo 11, Amerika setidaknya menghabiskan biaya sekitar USD 355 juta. Biaya yang sangat tinggi ini menyebabkan parlemen tidak lagi mengizinkan pelaksanaan misi pengiriman manusia ke Bulan.
Setelah keberhasilan melakukan misi pendaratan manusia pertama di Bulan dalam misi Apollo 11 tahun 1969, NASA mulai kembali memprioritas ulang tujuan penjelajahan luar angkasa. Rencana awal NASA membangun sebuah stasiun ruang angkasa mulai dihidupkan kembali. Akhirnya, pada 1970, NASA mengumumkan pembatalan misi Apollo 20 dan akan menggantinya dengan misi pembangunan stasiun ruang angkasa yang diberi nama Skylab. Pada tahun yang sama NASA juga mengumumkan bahwa tiga misi terakhir dari seri Apollo yang dapat berlanjut hanyalah misi Apollo 15, 16, dan 17. Bahkan sempat pada tahun 1971, pemerintah Amerika ingin membatalkan misi Apollo 16 dan 17 meski pada akhirnya tetap dilaksanakan. Selain pembangunan stasiun luar angkasa menjadi alasan utama penghentian pengiriman manusia ke Bulan, biaya yang sangat tinggi serta kondisi ekonomi dan politik Amerika menjadi alasan selanjutnya bagi pertimbangan tidak lagi mengirim manusia ke Bulan.
Lantas mengapa saat ini NASA sibuk sekali mengirim wahana-wahana ke Mars, bahkan berusaha mengirimkan manusia ke planet merah yang tidak berpenghuni itu? Tak lain jawabannya hampir sama seperti saat kekalahan Amerika atas Soviet, di mana Amerika tidak ingin kehilangan status adidaya dalam teknologi luar angkasa. Karena hal itulah parlemen Amerika menyetujui misi pengiriman wahana antariksa ke Planet Mars. Penghentian pengiriman manusia ke Bulan bukanlah akhir dari penjelajahan Bulan yang dilakukan oleh manusia. Alasan utama dari dihentikannya pengiriman astronaut NASA ke Bulan tak lain karena biaya yang sangat tinggi, kondisi ekonomi, dan kondisi politik dari Amerika itu sendiri.
[wah]
BERITA TERKAIT: