Isu Sara Ancaman Serius Kebhinnekaan Indonesia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Senin, 07 November 2016, 17:40 WIB
Isu Sara Ancaman Serius Kebhinnekaan Indonesia
Net
rmol news logo Islam seharusnya menjadi alat untuk mengkampanyekan perdamaian, bukan menebar kekerasan dan kebencian. Sebab, kebhinnekaan Indonesia akan menghadapi tantangan dengan munculnya isu suku, agama, ras da, antar golongan (Sara) yang dipolitisasi, sehingga berpotensi menjadi sumber konflik.

"Khusus demo 4 November memang ada indikasi kelompok radikal dari Poso, Ambon, MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), Solo dan lain-lain. Yang akan menunggangi demo ketika suasana terjadi chaos," beber Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas dalam dialog Empat Pilar MPR RI di komplek parlemen, Jakarta, Senin (7/11).

Isu penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sudah terjadi politisasi yang menggugah sentimen umat Islam. Dan mereka mau merebut kekuasaan dengan sistem negara yang diimpikan.

Menurut Yaqut yang juga anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PKB, isu Ahok tidak bisa dilepaskan akibat tokoh-tokoh agama sudah kehilangan diri sebagai panutan, dan mereka ini melupakan umatnya.

"Banyak ulama dan kiai sekarang ini muncul hanya ketika ada momentum politik. Kekosongan panutan itu yang mengakibatkan masalah Ahok ini makin melebar ke mana-mana," ujarnya.

Yaqut menegaskan jika masalah kebhinnekaan di Indonesia sudah selesai. Dia mencontohkan Pesantren Raudhotut Tholibin di Rembang, Jawa Tengah dinding bangunannya bersebelahan langsung dengan rumah pastor. Tapi, ketika sang pastor meninggal dunia yang mengurus kematian sampai penguburannya adalah kiai dan para santri.

"Jadi, kebhinnekaan ini tidak masalah dengan NU (Nahdlatul Ulama). Sehingga yang tidak menghargai kebhinnekaan berarti bukan NU," katanya. [wah]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA