Ia pun mengingatkan, secara normatif-doktriner, agama selalu mengajarkan kebaikan, cinta kasih, dan kerukunan. Tapi disayangkan jika kenyataan sosiologis justru memperlihatkan kebalikannya. Agama justri dijadikan sumber konflik yang tak kunjung reda, baik konflik internal maupun eksternal.
"Kami mengecam tindakan brutal tersebut. Sudah saatnya umat beragama mengkaji ajaran agamanya secara benar dan kritis, tidak terjebak pada persoalan-persoalan yang formalistik dan bersifat simbol belaka. Sementara substansi ajarannya yang penuh perhatian terhadap persoalan kemanusiaan dan akhlaq karimah seperti keadilan, kejujuran, dan kedermawanan terabaikan," ujarnya.
Terlebih, sambung Tan Taufik, jika kemudian agama direduksi dengan menempatkan posisi agama sebagai alat legitimasi aktivitas politik dan kekuasaan. Pada saat seperti ini, lanjutnya, agama sejatinya tinggal sebuah simbol kekuasaan yang kehilangan makna substansial.
"Oleh sebab itu, umat beragama perlu merenungi kembali persoalan ini. Bagaimana agama bisa menjadi kekuatan moral dan spirit umat untuk melakukan aksi yang selalu bermanfaat bagi orang lain, bukan sebaliknya merusak tatanan sosial. Kiranya kita perlu merenungi hadist Nabi yang berbunyi 'sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain'," tandasnya
.[wid]
BERITA TERKAIT: