Namun, para pengungsi Sinabung tetap nekat masuk ke zona merah yang ditetapkan harus steril oleh pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) seiring meningkatnya status Sinabung menjadi Awas. Tidak sedikit pengungsi yang pulang pergi ke ladang (kebun) yang terletak pada radius 7 kilometer dari puncak kawah, dengan alasan untuk memetik panen.
Ketua Program Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Medan, Susanto Ginting mengatakan, sikap nekat yang ditunjukkan oleh pengungsi lebih disebabkan kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi jika hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah.
"Pemerintah hanya membantu mereka untuk makan dan minum saja, sementara untuk kebutuhan sehari-hari anak mereka ke sekolah tidak ditanggung," katanya seperti dikabarkan medanbagus.com, Jumat (19/6).
Menurut Susanto, pemerintah seharusnya tidak hanya berpatokan pada pemenuhan kebutuhan logistik berupa makanan dan minuman saja. Namun bantuan yang diberikan juga harus didasarkan pada faktor sosial.
"Warga Karo itu setiap pagi selalu ke kedai kopi. Disitu mereka berinteraksi sosial dengan yang lainnya. Kalau mereka tak punya uang bagaimana mereka ke kedai meski sekedar minum teh saja. Ini hal kecil tapi menjadi salah satu faktor yang membuat mereka nekat pulang ke ladang untuk memetik buah kopi mereka," ujarnya.
Persoalan-persoalan kecil seperti ini menurut Susanto sudah menjadi keluhan bagi para pengungsi. Sebab, pemerintah sejauh ini hanya memperhatikan kebutuhan pokok mereka dengan mensuplai makanan dan minuman.
"Apa dengan makan dan minum di tenda pengungsian itu cukup? Tidak. Para pengungsi juga butuh biaya untuk kebutuhan sekolah anak mereka," demikian Susanto.
[rus]
BERITA TERKAIT: