Dukungan terhadap rezim Khadafi itu terungkap setelah ditemukannya dokumen-doÂkuÂmen penting oleh pekerja Human Right Watch di kantor Kepala Intelijen LIbya Moussa Kusa, yang diÂtinggalkan dan terbengÂkalai di ruang kerja bekas kepala badan intelijen sekaligus bekas menÂteri luar negeri Libya.
Di tempat itu, ditemukan pula ratusan surat antara CIA, MI6 dan Kusa yang kini melarikan di ke London. Dalam beberapa surat CIA yang dimulai dengan kalimat ‘Dear MousÂsa’, terlihat diteken secara inforÂmal hanya dengan nama pertama oleh peÂjabat-pejabat CIA.
Dokumen-dokumen itu meÂnyiÂratkan bahwa CIA melakukan penÂculikan terhadap beberapa tokoh militan sejak 2002 hingga 2004 dan menyerahkan mereka ke Tripoli. Termasuk adanya peÂnaÂwaÂran senjata oleh perusahaan senÂjata China kepada otoritas Libya.
Kantor berita Globe Mail meÂlansir, Negeri Tirai Bambu itu perÂnah menawarkan sejumlah senjata dalam ukuran besar keÂpada Khadafi pada bulan-bulan terakhir kekuasaannya. Proses pengirimannya bahkan sempat dibicarakan, yakni lewat Aljazair dan Afrika Selatan.
Perusahaan-senjata asal China itu bahkan siap mengirimkan senÂjata dan amunisi senilai 200 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,7 triÂliun kepada Khadafi pada akhir Juli. Itu diketahui berdasaran keÂterangan saksi-saksi dari pihak PBB, kata harian itu, yang meÂngutip dokumen-dokumen raÂhasia yang diperolehnya.
Harian itu tidak mengonfirmasi apakah ada bantuan militer yang diberikan. Namun anggota senior dewan penguasa baru Tripoli meÂngatakan, dokumen-dokumen itu memperkuat kecurigaan meÂreka tentang tindakan terbaru ChiÂna, Aljazair dan Afrika Selatan. Sekedar catatan, Aljazair, China dan Afrika Selatan adalah neÂgara-negara yang tidak menÂduÂkung tindakan NATO di Libya.
Omar Hariri, Kepala Komite Militer Dewan Transisi Libya, mempelajari dokumen-dokumen itu dan menyimpulkan bahwa doÂkomen-dokumen tersebut bisa menjelaskan kehadiran senjata-senjata baru di medan perang.
“Saya hampir yakin bahwa senjata-senjata itu sudah tiba dan digunakan terhadap rakyat kaÂmi,†kata Hariri.
Dokumen-dokumen tersebut ditemukan di tumpukan sampah di pinggir jalan di lingkungan yang dikenal sebagai Bab AkkaÂrah. Di kawasan itulah sejumlah pendukung Khadafi yang paling loyal tinggal.
Dokumen-dokumen itu meÂnunÂjukkan, para pembantu utama keamanan Khadafi melakukan perjalanan ke Beijing pada perÂtengahan Juli. Di sana mereka berÂtemu dengan para pejabat dari peÂrusahaan China North InÂdustries Corp. (Norinco); China National Precision Machinery Impor & Ekspor Corp (CPMIC); dan China Xinxing Impor & Ekspor Corp.
Perusahaan-perusahaan itu bahkan menawarkan seluruh stok senjata mereka untuk dijual. MeÂreka juga berjanji untuk memÂproduksi leÂbih banyak paÂsokan senjata jika diperÂlukan.
Sebelumnya, pemerintahan Libya mencoba melobi Inggris agar melepas Abdel Basset al-Megrahi, pembom pesawat terÂbang di Lockerbie tahun 1988 paÂda Agustus 2009. Namun upaÂya ini gagal setelah doÂkumen pemeÂrintah ditemukan oleh wartawan di gudang bekas keÂdutaan IngÂgris di Tripoli.
Dalam dokumen tersebut, peÂjabat senior Kantor Kementerian Luar Negeri AS Robert Dixon meÂnulis kepada Menteri Luar Negeri Inggris DaÂvid Miliband pada Januari 2009 bahwa KhaÂdafi mengÂinginÂkan Megrahi kembali ke Libya dengan cara apapun. [rm]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: