Jakut Masih Diancam Terendam Banjir Rob

Penyelesaian Pintu Air Pasang Surut Cilincing Molor

Jumat, 12 November 2010, 07:43 WIB
Jakut Masih Diancam Terendam Banjir Rob
RMOL. Harapan warga Jakarta Utara (Jakut) terbebas dari banjir rob (air pasang surut laut), nampaknya belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Pasalnya, pembangunan Pintu Air Pasang Surut Cilincing di Kali Banglio yang rencana rampung akhir 2010 terhambat masalah pembebasan lahan warga.

Padahal, pembangunannya yang semula ditargetkan selesai akhir 2010 dan sudah ada peme­nang tendernya itu, menjadi tum­­puan bagi warga Jakarta Utara agar terhindar banjir rob di kawasan Cakung. Tapi, karena belum ada titik temu terkait be­saran ganti rugi pembebasan lahan warga yang bermukim di sekitar Kali Banglio, membuat anggaran proyek ini dialihkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2011.

“Pembangunan pintu air ini sebenarnya sudah diprogramkan dalam APBD DKI 2010. Tapi proyek tersebut terpentok masa­lah pembebasan beberapa ba­ngu­nan di sekitar lokasi, se­hingga pembangunan pintu air sepanjang 40 meter lengkap de­ngan pompa airnya itu terpaksa ditunda,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto.

Sebenarnya, lanjut dia, lahan yang mesti dibebaskan tinggal satu rumah warga dan dua pos ke­amanan laut (kamla) dan pos polisi air (polair). Namun, karena

kontraktor pemenang tender membutuhkan kondisi aman untuk pengerjaan proyek, maka dibutuhkan ruangan kosong 20 meter ke kanan dan 20 meter ke kiri.

“Untuk keperluan ruangan pengerjaan proyek itu diperlu­kan kerelaan masyarakat untuk pergi dan mau dibeli rumahnya. Kata camat disini, mereka sudah bersedia pergi asal ada ganti rugi. Saya pribadi menganggap itu wajar, karena mereka mem­bangun rumah pakai uang. Jadi tawar saja,” ujarnya.

Untuk itu, bekas Asisten Teri­torial Pangdam Jaya ini mende­sak Kepala Dinas Pekerjaan Um­um Ery Basworo dan Wali­kota Jakarta Utara Bambang Su­giyo­no untuk segera berkoor­dinasi dengan dua institusi, yaitu TNI Angkatan Laut serta Polda Me­tro Jaya dalam pemin­dahan pos mereka. Termasuk bernegosiasi mengenai harga ganti rugi pem­bebasan rumah warga yang ter­kena proyek.

Ditegaskannya, pembebasan seluruh rumah pemukiman war­ga dan dua pos tersebut harus su­dah rampung pada akhir tahun anggaran 2010. Sehingga pada 2011, pembangunan pintu air tersebut sudah bisa dilakukan.

Kepala Dinas Pekerjaan Um­um Ery Basworo mengatakan, pihaknya akan berupaya berko­or­dinasi dengan dua institusi yang pos dinas mereka terkena proyek. Secara lisan, jelas Edy, kedua institusi tersebut sudah bersedia memindahkan pos di­nasnya ke Tempat Pelelangan Ikan Cilincing.

“Agar resmi, nantinya kami akan buatkan surat permohonan kepada dua institusi tersebut,” kata Ery.

Hal senada juga diungkapkan Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono. Dia mengatakan, ber­sama camat dan dewan kelura­han setempat akan melakukan musyawarah bersama warga untuk menentukan harga ganti rugi yang pantas.

“Secepatnya kami akan mem­bahas hal ini dengan warga. Mu­dah-mudahan segera me­nemu­kan harga yang pantas,” ucapnya.

Sementara Kasie Pengenda­lian Banjir Dinas PU DKI J­a­karta Wagiman mengatakan, tahun ini ada tiga proyek yang te­rmasuk dalam program pe­nanggulangan banjir rob. Di antaranya, penanggulan Tanggul Marunda, Tanggul Pantai Kre­matorium Cilincing dan pemba­ngunan Pintu Air Pasang Surut Cilincing.

“Ketiganya termasuk dalam satu paket program penang­gu­langan. Dana yang dialo­kasikan oleh PU DKI sebesar Rp 2 miliar dari APBD DKI 2010 dan harus rampung akhir 2010,” ujarnya.

Wagiman juga menjelaskan, pengerjaan penanggulan Tang­gul Marunda telah selesai 50 per­sen. Karena, sambungnya, pe­­nger­jaannya hanya meng­guna­kan pengamanan tanggul sepan­jang enam meter dari dinding tanggul dengan menggunakan tetra pot atau batu belah.

Sedangkan penanggulan di Tanggul Pantai Krematorium Cilincing baru akan dibangun sheet pile sepanjang 264 meter. Pengerjaannya juga sudah men­capai 50 persen. Dipastikan, dua proyek penanggulanan ini sele­sai pada 15 Desember 2010.

Tetapi, dalam proyek pemba­ngunan Pintu Air Pasang Surut Cilincing yang diperkirakan akan menghabiskan dana sebe­sar Rp 3,5 miliar akan ditunda pengerjaannya. Karena seba­nyak 37 KK yang terkena proyek tersebut masih bertahan dan tidak mau direlokasi.

Padahal, keberadaan pintu air tersebut sangat penting untuk menanggulangi banjir rob yang bisa mencapai 1-2 kilometer sepanjang Jalan Inspeksi Ca­kung Drain.

“Karena itu, pengerjaannya terpaksa kami tunda. Dananya akan dialihkan buat pemba­ngunan sheet pile sepanjang 180 meter di Jalan RE Martadinata. Letaknya di sebelah jalan yang ambles. Mudah-mudahan tahun ini bisa selesai,” jelasnya.

Sekadar informasi, air pasang laut sempat menerjang kawasan pesisir pantai Marunda, Cilin­cing sejak Jumat hingga Senin lalu (8/11). Kejadian itu menye­babkan 20 penambak bandeng mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Salah satu penambak itu ada­lah Oncim (45). Menurut dia, aki­bat terjangan air pasang laut, menyebabkan puluhan ikan ban­deng di lahan seluas 6 hek­tare miliknya hanyut terbawa air pa­sang. “Padahal bulan depan kita panen,” kata Oncim, warga RT 2/7 Marunda.

Diakuinya, bandeng yang ada ditambaknya mencapai 20 ribu ekor. Namun air pasang mengha­nyutkan sekitar puluhan ribu ikan bandeng miliknya. Untuk biaya ternak, dia menghabiskan dana sekitar Rp 8 juta, termasuk biaya pakan.

“Padahal jika ternak lancar dan tidak tersapu gelombang air pasang, keuntungannya bisa men­capai Rp 16 juta,” ujarnya.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA