"Saya ke Brebes tiba jam enam sore kemarin dan almarhum langsung dimakamkan disini," ujar adik kandung Sunaryo, Ningsih yang saat dihubungi
Rakyat Merdeka Online, hari ini (Senin, 1/11) tengah berada di Brebes.
Ningsih menceritakan, ibunya pingsan saat jenazah Sunaryo tiba di rumah. Bahkan ia terpaksa tidak menghadiri pemakaman Sunaryo karena harus menunggu ibunya yang masih pingsan.
Sunaryo, menurut Ningsih, seharusnya pulang akhir tahun ini karena kontrak kerjanya habis. Tapi takdir berkata lain, sang kakak yang telah bekerja 1,7 tahun tersebut pulang lebih cepat.
"Yang jelas awalnya, kakak saya itu pergi ke Taiwan untuk bekerja di pelayaran. Namun almarhum kabur karena tidak betah dan akhirnya bekerja menjadi pekerja konstruksi," tutur Ningsih.
Keluarga pun sudah ikhlas menerima kepergian Sunaryo yang tewas akibat tertimpa reruntuhan jembatan tol di Kota Nantou County, Taiwan pada 30 September lalu. Santunan dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga sudah diterima pihak keluarga yang masing-masing sebesar Rp 2,5 juta dan Rp 5 juta.
"Untuk besaran sumbangan yang akan diberikan perusahaan di Taiwan, katanya nanti tanggal 4 atau 7 bulan ini," tambah Ningsih.
Seperti diketahui, kemarin, dalam penjelasannya kepada wartawan di Bandara Soekarno Hatta, menurut Ketua BNP2TKI Jumhur Hidayat, Sunaryo dan lima rekannya yang tewas telah mendapatkan bantuan kemanusiaan dari pihak pengguna di Taiwan sebesar 1,3 juta dolar NT atau setara Rp 357 juta per TKI.
[wid]
BERITA TERKAIT: