PGSC Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Perempuan Lewat Sosialisasi Kanker Serviks

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-kiflan-wakik-1'>AHMAD KIFLAN WAKIK</a>
LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK
  • Senin, 02 November 2026, 11:20 WIB
PGSC Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Perempuan Lewat Sosialisasi Kanker Serviks
(Foto: Dok. PSGC)
Kecil Besar
rmol news logo Paramadina Graduate School of Communication (PGSC)  menegaskan komitmennya dalam menjalankan peran edukasi publik dengan menggelar kegiatan cek kesehatan gratis sekaligus sosialisasi kesehatan pencegahan kanker serviks dan literasi digital. 

Hal ini menjadi respons atas tingginya risiko kanker serviks pada kaum perempuan serta pentingnya pemanfaatan media digital secara bijak untuk menyebarkan informasi kesehatan yang sahih dan valid.

Kegiatan ini dilakukan PGSC Paramadina bekerja sama dengan Universitas Terbuka dan Rumah Sakit Hermina Ciputat melalui sosialisasi kesehatan bertajuk “Peran Media Digital dalam Meningkatkan Kesadaran Masyarakat tentang Pencegahan Kanker Serviks”. 

Acara yang dihelat di Wisma Universitas Terbuka, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Minggu 1 November 2026 ini, menghadirkan perwakilan PGSC Paramadina sekaligus Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Dr. Tatik Yuniarti.

Sosialisasi ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn) RS Hermina Ciputat, dr. Fahmiadi, Sp.OG, serta mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Nurhaeni Amir. Hadir pula dalam acara tersebut Ketua Panitia Sosialisasi, Dwi Putra Asmara.

Acara ini juga turut dihadiri dengan penuh antusias oleh puluhan ibu rumah tangga. Selain mendapatkan edukasi, para peserta juga menikmati fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis yang meliputi pengecekan gula darah, asam urat, dan tekanan darah. 

Mereka juga menjalani pemeriksaan HPV DNA sebagai metode skrining kanker serviks, dengan ketentuan bagi peserta yang sudah menikah hingga usia 59 tahun, sedang tidak hamil, tidak baru saja berhubungan intim, serta diperbolehkan sedang dalam masa haid hari terakhir.

"Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat tidak hanya semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan deteksi dini, tetapi juga cakap memperoleh informasi kesehatan yang benar dan terpercaya," ujar Ketua Panitia Sosialisasi, Dwi Putra Asmara.

Ia juga berharap kegiatan ini menjadi langkah awal bagi para peserta untuk terus membagikan informasi bermanfaat ini kepada keluarga dan lingkungan sekitar mereka. 

Selain itu Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Dr. Tatik Yuniarti, menyampaikan bahwa insan akademis di bidang komunikasi memiliki kewajiban moral untuk menyampaikan pesan-pesan pencegahan kesehatan yang tepat sasaran kepada masyarakat.

Dr. Tatik menambahkan, perempuan terutama mereka yang sudah pernah melahirkan menghadapi berbagai tantangan kesehatan reproduksi yang kompleks. Risiko kesehatan seperti kanker serviks sering kali tidak menunjukkan gejala awal, sehingga deteksi dini dan kewaspadaan sejak awal menjadi kunci utama pencegahan.

"Penyakit kanker sering kali memberikan bayangan kekhawatiran bagi masa depan keluarga. Oleh karena itu, jika ada perubahan sekecil apa pun pada tubuh kita, kita harus lebih peka (aware) dan tidak menganggapnya remeh," tegas Tatik.

Di hadapan puluhan ibu rumah tangga, dr. Fahmiadi, Sp.OG menjelaskan bahwa kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan jenis kanker terbanyak kedua pada wanita setelah kanker payudara. Kendati demikian, kanker serviks memiliki keistimewaan medis yang tidak dimiliki oleh jenis kanker lainnya.

"Satu-satunya kanker yang bisa dicegah adalah kanker serviks. Kenapa bisa dicegah? Karena perjalanan penyakitnya sudah diketahui dengan jelas. Dari awal virus HPV menginfeksi hingga berubah menjadi kanker membutuhkan waktu rata-rata 10 sampai 20 tahun. Rentang waktu inilah yang menjadi kesempatan emas kita untuk mendeteksi perubahan sel atau lesi prakanker lebih awal," jelas dr. Fahmiadi, Sp.OG.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa jika lesi prakanker terdeteksi sejak dini sebelum berubah menjadi keganasan, tingkat kesembuhannya bisa mencapai 100% tanpa harus melalui operasi besar atau radioterapi. 

Untuk diketahui, Lesi prakanker sendiri merupakan perubahan sel atau jaringan yang belum bersifat ganas (kanker), namun berpotensi berkembang menjadi kanker jika tidak dipantau secara ketat.

Karenanya, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menunda tindakan medis apabila telah didiagnosis dan disarankan untuk menjalani operasi.

dr. Fahmiadi juga menjelaskan bahwa infeksi HPV sangat umum di masyarakat, namun sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri berkat daya tahan tubuh yang baik. Hasil positif pada tes HPV DNA belum tentu vonis kanker, melainkan peringatan dini adanya virus yang perlu ditanggulangi. 

Ia juga menekankan beberapa poin penting dalam pencegahan dan deteksi dini, bahwa penularan HPV terjadi melalui kontak langsung atau hubungan seksual.

"Risiko infeksi menetap juga diperparah oleh rokok baik perokok aktif maupun pasif karena paparan asap rokok terbukti membuat kadar nikotin di mulut rahim menjadi 4 hingga 7 kali lebih lipat, melemahkan daya tahan sel setempat," tuturnya.

Selain itu, gejala juga perlu diwaspadai, di mana Lesi prakanker umumnya tidak bergejala. Gejala baru muncul saat kanker mulai berkembang, seperti pendarahan di luar siklus haid, pendarahan setelah menopause, keputihan berbau tidak sedap, serta nyeri panggul atau nyeri saat berhubungan suami-istri.

“Lakukan tiga langkah pencegahan utama, yaitu melakukan vaksinasi HPV yang kini juga disubsidi pemerintah untuk anak sekolah, rutin menjalani skrining berkala seperti tes HPV DNA, IVA, atau Pap Smear, serta menerapkan gaya hidup setia pada pasangan dan menjauhi rokok,” terangnya. 

Tangkal Hoaks Kesehatan, dengan Literasi Digital

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina sekaligus narasumber sosialisasi kesehatan, Nurhaeni Amir, membawakan materi interaktif mengenai pentingnya literasi digital dan cara mengoptimalkan penggunaan telepon genggam (handphone) secara bijak untuk menyaring informasi, khususnya terkait isu kesehatan.

"Ketika kita mendapatkan informasi kesehatan di media sosial misalnya klaim bahwa kanker serviks tidak bisa diobati dan 90% berujung kematian kita harus pintar menyikapinya. Jangan langsung percaya begitu saja," katanya.

Nurhaeni memperkenalkan metode praktis “JEDA” guna membantu masyarakat mengenali serta menghindari paparan informasi palsu atau hoaks di ruang digital, bahwa J, dalam hal ini “Jangan langsung percaya”. Tidak langsung menelan mentah-mentah atau buru-buru meneruskan (forward) pesan berantai yang meragukan ke grup WhatsApp keluarga atau kerabat.

Kemudian E, yakni “Evaluasi sumber” dengan memeriksa dan menilai kredibilitas pihak atau instansi yang menyampaikan informasi tersebut. Informasi medis tentu harus merujuk pada pakar atau dokter yang berkompeten.

Selanjutnya yaitu D, “Dapatkan pembanding”. Dengan melakukan verifikasi dengan mencari informasi pembanding dari media massa yang kredibel atau situs resmi instansi kesehatan pemerintah (seperti Kemenkes atau layanan kesehatan digital terpercaya).

Terakhir yaitu A, yakni “Ambil keputusan bijak” dengan mencerna informasi secara matang sebelum membagikannya atau mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut.

Nurhaeni juga mengajak para peserta untuk memanfaatkan gawai secara positif dengan membagikan pesan-pesan edukatif yang didapat dari acara hari ini ke platform media sosial masing-masing.

"Jika 30 ibu-ibu yang hadir di ruangan ini masing-masing menularkan lima informasi positif tentang pencegahan kanker serviks kepada orang lain di lingkungan sekitarnya, maka akan ada ratusan orang yang tercerahkan," demikian Nurhaeni.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA