Begitu kata Ketua Satgas Penanganan Covid-19 PB IDI, Profesor Zubairi Djoerban dalam akun Twitter pribadi, Jumat (25/12).
“Varian baru ini bernama N501Y dan punya kemampuan infeksi yang lebih tinggi. Lebih mudah menular 70 persen. Terutama kepada anak-anak,†kata gurubesar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.
Namun demikian, Zubairi Djoerban memastikan anggapan bahwa varian baru ini tidak bisa terdeteksi tes PCR adalah salah. Dia meminta masyarakat tidak khawatir dengan kabar tersebut.
“Tes PCR ini bisa mendeteksi tiga spike (seperti paku-paku yang menancap pada permukaan virus korona) berbeda. Sehingga, varian baru ini masih tetap bisa dideteksi tes PCR,†sambungnya.
Sementara mengenai vaksinasi, Zubairi juga memastikan varian baru Covid-19 itu tidak berpengaruh. Sebab vaksinasi tidak membentuk satu respons antibodi saja.
“Yang harusnya terpengaruh adalah kebijakan kita dan keputusan orang untuk berlibur. Sekali lagi, mari perketat tali masker,†tutupnya.
BERITA TERKAIT: