Kisah Juang Penyintas Covid-19 Diawal Masa Pandemi: Ketika Nafasku Sesak Aku Pencet Bel, Enggak Ada Suster Yang Masuk

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-satryo-1'>AHMAD SATRYO</a>
LAPORAN: AHMAD SATRYO
  • Jumat, 06 November 2020, 13:55 WIB
Kisah Juang Penyintas Covid-19 Diawal Masa Pandemi: Ketika Nafasku Sesak Aku Pencet Bel, Enggak Ada Suster Yang Masuk
Nina Susilowaty/Repro
rmol news logo Bulan Maret 2020, Nina Susilowaty terpaksa masuk ke Rumah Sakit (RS) Pasar Minggu karena berurusan dengan Covid-19.

Gejala pertama yang dia alami tak lebih dari gejala demam yang terdeteksi dari suhu badan panas. Kemudian juga batuk yang diikuti sesak nafas.

Secuplik kisah Nina Susilowaty ini didokumentasikan oleh Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, dalam sebuah video yang dibagikan kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (6/11).

Video tentang kisah perjuangan Nina Susilowaty dalam mengahadapi Covid-19 ini terekam dalam durasi 35:20 menit. Di mana, Nina menceritakan secara rinci mulai awal dirinya masuk rumah sakit hingga akhirnya bisa terbebas dari infeksi Covid-19.

Nina menceritakan, dirinya terinfeksi dimasa sulit penanganan Covid-19. Karena, pada Maret awal RS Pasar Minggu baru saja ditetapkan oleh pemerintah sebagai rumah sakit rujukan.

"Aku masuk ke RS rujukan yang baru saja ditunjuk, yaitu RS Pasar Minggu. Ketika akau masuk gawat darurat, mereka minta aku bersabar karena beberapa sudah masuk kesitu," ujar Nina.

Pada saat itu, Nina melihat para perawat dan dokter sudah mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Namun, mereka masih gagap dan agak takut berinteraksi atau mendekati pasien.

"Tapi kemudian mereka juga memeriksa kami, memeriksa aku, dan kemudian diputuskan aku terserang Covid-19. Dan malam itu aku harus dirawat inap," ungkapnya.

Cerita menarik yang Nina alami terjadi pada saat dirinya mulai dirawat di ruang isolasi RS Pasar Minggu. Sebab ketika itu, justru wanita yang mempunyai penyakit penyerta (komorbid) hypertensi dan pembengkakkan jantung ini baru merasakan gejala berat.

"Jadi untung banget hari pertama aku masuk RS masih bisa (bernafas), karena sehari kemudian itu untuk nafas susah. Dan kemudian aku harus nafas melalui selang, itu nyaris 24 jam selama 2 hari pertama (masuk RS)," tuturnya.

Bahkan, ketika dalam kondisi seperti itu, Nina sulit mendapatkan pelayanan secara langsung dari perawat.

Sebagai contoh, sewaktu dia mengalami sesak nafas dan ingin meminta perawat membantunya untuk mengecek kondisinya, tidak ada perawat yang berani masuk ke ruang isolasinya.

"Ketika nafasku sesak aku pencet bel, enggak ada suster yang masuk. Mungkin karena keterebatasan APD. Dan memang ternyata mereka masuk ada jadwalnya jam 5 pagi, jam 5 sore, 11 siang sama 11 malam. Jadi 4 kali. Diluar itu, meskipun kita mengalami kesulitan apapun mereka anggak akan masuk," ungkap Nina.

"Saat itu kemudian SOP (perawatan pasien Covid-19) juga belum terbentuk, karena Covid baru saja masuk Indonesia dan mereka baru 2 hari ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan. Sehingga membuat mereka juga gagap," sambungnya.

Dimasa-masa sulit tersebut, Nina harus bersabar untuk berjuang melawan Covid-19. Sampai akhirnya, setelah 5 hari dirawat dia baru bisa lepas dari bantuan oksigen untuk bernafas.

Sementara sebelum 5 hari itu, Nina tidak bisa banyak bergerak, misalnya ke kamar mandi sendiri. Karena selain dirinya di infus, dia juga harus terus menggunakan oksigen untuk bisa bernafas.

"Pada saat aku bergerak cepat saja selang oksigen harus dipasang. Karena selama aku terserang (Covid-19) itu aku bergerak cepat atau bahkan makan terlalu cepat, ngunyah, itu langsung engap, nafas sesak," bebernya.

Singkat cerita, Nina berhasil keluar dari masa sulit dengan menghabiskan waktu 20 hari di RS Pasar Minggu. Hal itu tidak terlepas dari jasa para perawat dan dokter yang merawatnya dengan baik.

Metode perawatan yang dilakukan para tenaga medis kepada Nina diantaranya memberikan obat-obatan untuk penyakit penyertanya dan suplemen serta vitamin.

"Komorbid ini yang dikelola dengan baik oleh dokter. Sementara Covidnya sendiri saat itu seinget aku sempat diberi vitamin c, zinc, klorokuin, dan ada obat-obatan yang terkait dengan komorbid," sebut Nina.

Selain itu, rumah sakit juga melakukan 3 kali tes usap (atau Swab Test) untuk mendeteksi perkembangan virus Sars-COV-2 yang hidup di dalam tubuhnya.

Nina mengaku tidak suka ketika dilakukan Swab Test Covid-19. Dia merasa tes tersebut cukup membuatnya ketakutan, lantaran alat yang digunakan untuk mengambil sampel virus dari hidungnya seperti cotton bud, namun ukurannya lebih panjang.

"Itu dimasukan ke hidung dan diputar sampai 10 kali putaran. Aku tahu 10 putaran karena orang lab-nya ngitung. Setelah dilepas (alatnya) dari hidung mau bersin tapi enggak bisa. Perih juga enggak, cuma kaya risih saja gitu," paparnya.

Setalah dilakukan tes sebanyak 3 kali yang dilakukan seiring masa pemulihan, Nina juga sempat mendapat kesulitan untuk mendapatkan hasil swab test-nya. Bahkan, dia sempat tidak mensapat laporan dari hasil tes yang kedua.

"Dari tiga kali swab, yang pertama positif, yang kedua tidak tau hasilnya, enggak tau kemana. Kemudian swab ketiga tetap positif," ungkapnya.

Menariknya, Nina juga pernah mendapat salah laporan dari RS mengenai hasil swab test-nya yang ketiga. Itu terjadi usai dirinya sudah dirawat hampir 20 hari, dan sudah ingin diperbolehkan pulang.

"Jadi ada drama sebelum saya pulang. Di hari kesembilan belas pada swab ketiga itu aku sudah boleh pulang sama dokter dengan berjanji menandatangani sebuah surat aku harus isolasi di rumah seama 14 hari," katanya.

"Sudah rapih-rapih barang, tapi setelah 15 menit kemudian perawat memberitahukan ada salah info, bahwa saya masih positif untuk hasil swab ketiga. Gondok aku," sambung Nina sembari tertawa.

Namun disaat itu pula muncul kerumitan lain. Di mana, Nina melihat dua orang pasien Covid-19 di depannya meninggal dunia dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.

"Waktu itu hari kesembilan belas. Yang di depanku meninggal lebih dulu, dan sebelahku 10 menit kemudian. Dan setelah itu jenazah ditinggal bersamaku hampir 5 jam lamanya di dalam kamar. Mungkin karena pengurusan jenazah waktu itu masih rumit ya. Harus siapkan peti jenazah dan bungkus plastik," ceritanya.

Nina mengaku takut saat itu, sehingga meminta suster untuk memindahkannya dari kamar isolasi tersebut jika memang harus masih dirawat di RS Pasar Minggu.

"Aku bukan takut jenazahnya. Tapi bagaimana ya, melihat dua orang meninggal di depan mataku," ungkapnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA