Sebelumnya, penyebab virus tersebut telah ditemukan secara luas pada hewan unta. Namun para peneliti memprediksi bahwa virus tersebut dapat bersembunyi di hewan lain terutama yang kerap berinteraksi dengan manusia.
Sindrom pernafasan yang baru ditemukan pada tahun 2012 lalu itu telah menewaskan total 200 orang secara global. Kasus perdana MERS ditemukan pada seorang pasien asal Arab Saudi.
Hingga saat ini terdapat hampir 600 kasus infeksi MERS yang ditemukan di seluruh dunia. 30 persen di antaranya mengalami kondisi yang kritis.
Sejak angka penderita yang semakin meningkat, ilmuan mencoba menguji hewan di kawasan Timur Tengah untuk mencari tahu penyebab pasti penyebaran virus.
Dengan menggunakan sampel darah dari unta di pulau Canary, peneliti Belanda berhasil menemukan antibodi pertama dari penyakit itu.
Penelitian terbaru menemukan bahwa versi virus yang beredar pada manusia tidak bisa dibedakan dari versi virus yang ditemukan pada unta.
Namun salah seorang peneliti, Dr Thomas Briese dari Columbia University menyebut bahwa masih banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang penyakit tersebut.
Pasalnya, bila unta hanyalah satu-satunya rute infeksi virus, maka penyakit tersebut seharusnya lebih banyak menyebar di kalangan orang-orang yang kerap berinteraksi dengan unta. Sedangkan pada kenyataanya, terdapat sejumlah kasus orang yang meninggal akibat MERS tidak memiliki kontak atau interaksi dengan unta.
"Dalam beberapa kasus ada kontak dengan hewan atau unta tetapi dalam kasus lainnya tidak, sehingga tidak ada gambaran yang jelas belum definitif," jelas Briese seperti dilansir
BBC (Senin, 26/5).
Ia juga menjelaskan bahwa sejumlah hewan seperti kambing dan domba juga pernah diuji, namun tidak menunjukan adanya indikasi penularan virus.
"(Hewan) lain yang kita cari tahu lebih dalam adalah kucing, anjing di mana ada kontak yang lebih intim (dengan manusia) dan hewan liar lain," sambungnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: