Kini, jalan kaki mengalami degradasi makna. Ia turun derajat menjadi sekadar aktivitas latar, dilakukan sambil menunduk, sambil menggulir layar ponsel, sambil mengejar notifikasi yang datang lebih cepat dari detak jantung. Kaki melangkah, tapi pikiran tertinggal di layar lima inci.
Kita berjalan tanpa benar-benar hadir di dalamnya. Jalan kaki menjadi semacam autopilot biologis: tubuh bergerak, kesadaran absen. Ironisnya, justru pada saat kita mengira diri paling aktif -karena langkah tercatat, jarak terukur, dan target tercapai— di situlah esensi berjalan menguap.
Penelitian kesehatan terbaru atas puluhan ribu orang Inggris yang jarang bergerak seolah datang sebagai teguran halus namun tegas. Menurut riset yang diterbitkan di
Annals of Internal Medicine ini, bukan jumlah langkah yang paling menentukan, melainkan pola dan kualitasnya.
Jalan kaki yang utuh, fokus, berkesinambungan -meskipun hanya lima belas menit atau lebih tanpa henti- ternyata jauh lebih bermakna bagi jantung dibanding potongan-potongan langkah pendek yang tercerai-berai. Tentu tak masalah jika berhenti sebentar untuk selfie, lalu berbagi.
Bahkan mereka yang jarang bergerak, yang langkah hariannya jauh di bawah standar iklan pedometer buatan Jepang, tetap memperoleh manfaat besar jika berjalan dalam satu tarikan napas yang cukup panjang. Jantung, rupanya, tidak menyukai hidup yang terfragmentasi.
Jantung bekerja paling baik ketika ritme dijaga, bukan ketika aktivitas dipotong-potong oleh distraksi. Dengan kata lain, berjalan sambil scroll smartphone mungkin menambah langkah, tetapi belum tentu menambah kesehatan —apalagi kejernihan pikiran.
Menariknya, apa yang kini dibuktikan oleh jurnal kedokteran tadi sesungguhnya sudah lama dipraktikkan para pemikir besar, jauh sebelum ilmu kardiologi modern lahir.
Ambil contoh Thomas Hobbes (1588–1679), filsuf Inggris yang terkenal dengan pandangannya tentang manusia dan negara. Dalam karyanya _Leviathan_, ia menggambarkan kehidupan manusia di alam tanpa hukum sebagai
"nasty, brutish, and short" -kejam, kasar, dan singkat.
Namun hidup Hobbes sendiri justru tidak singkat. Ia wafat pada usia sembilan puluh satu tahun, sebuah usia yang nyaris mustahil pada abad ke-17. Salah satu kebiasaan Hobbes yang sering dicatat adalah berjalan kaki setiap hari. Ya, setiap hari, bukan mingguan.
Ia berjalan bukan sebagai olahraga terencana, melainkan sebagai bagian dari rutinitas berpikir. Seolah-olah, meski pesimis terhadap tabiat manusia, ia tetap percaya bahwa tubuh yang digerakkan dengan ritme teratur bisa memperpanjang usia nalar dan raga.
Lalu ada Immanuel Kant (1724–1804), filsuf Jerman yang ajaran intinya menekankan rasio, kewajiban moral, dan hukum etika universal. Kant begitu disiplin berjalan kaki hingga warga kota Königsberg konon menyetel jam mereka berdasarkan jadwal jalannya.
Setiap hari, di jam yang sama, Kant akan melangkah keluar rumah untuk berjalan. Jalan kaki baginya bukan rekreasi, melainkan ekstensi dari keteraturan berpikir. Ia percaya bahwa rasio bekerja paling baik dalam disiplin.
Menariknya, hanya satu kali Kant melewatkan rutinitas itu: ketika ia terlalu larut membaca karya Jean-Jacques Rousseau. Seolah-olah, pada hari itu, pikiran menggantikan langkah -dan itu menjadi pengecualian yang begitu langka hingga layak dicatat sejarah.
Jean-Jacques Rousseau (1712–1778) sendiri adalah filsuf Swiss-Prancis yang pemikirannya menekankan kebebasan alami manusia, kritik terhadap peradaban, dan pentingnya kembali pada keaslian. Rousseau bukan hanya berjalan; ia memuliakan berjalan.
Dalam karya terakhirnya,
The Reveries of a Solitary Walker, ia secara jujur mengakui bahwa ia hanya bisa berpikir dengan baik saat berjalan. Dalam pengakuan autobiografisnya yang terkenal,
Les Confessions, Rousseau menulis bahwa berjalan "menghidupkan dan meninggikan ide-ide saya." Baginya, pikiran adalah makhluk yang perlu ruang, dan ruang terbaik untuk itu bukan kursi, melainkan jalan.
Pemikiran Rousseau memberi pengaruh besar pada Kant, tetapi gaya reflektif berjalan menemukan nuansa berbeda pada Søren Kierkegaard (1813–1855), filsuf Denmark yang dikenal sebagai bapak eksistensialisme. Kierkegaard menekankan pengalaman subjektif, kegelisahan, dan lompatan iman.
Ia gemar berjalan di sekitar danau Sorte Dams Dossering di Kopenhagen. Dalam salah satu suratnya, ia menulis bahwa tidak ada masalah di dunia yang tidak bisa disembuhkan oleh jalan kaki. Kalimat ini terdengar optimistis, bahkan terapeutik.
Ironisnya, di tahun yang sama ia menulis
The Sickness Unto Death, karya yang sangat muram tentang keputusasaan eksistensial. Barangkali di sinilah pelajaran pentingnya: berjalan bukan jaminan hidup tanpa kegelisahan, tetapi ia memberi ruang untuk menghadapinya dengan jujur.
Friedrich Nietzsche (1844–1900), filsuf Jerman yang terkenal dengan kritiknya terhadap moralitas tradisional dan deklarasi "Tuhan telah mati", adalah pejalan kaki fanatik. Dalam gaya provokatifnya, ia mengecam kehidupan sedentari sebagai dosa terhadap "Roh Kudus" -dalam pengertian vitalitas hidup.
Baginya, hanya pikiran yang lahir dari berjalan yang layak disebut pikiran. Nietzsche sering menulis sambil berjalan di pegunungan Alpen atau menyusun catatan setelah berjam-jam melangkah. Baginya, tubuh bukan beban bagi pikiran, melainkan mesinnya.
Charles Darwin (1809–1882), meski bukan filsuf dalam arti klasik, juga memiliki kebiasaan berjalan harian di jalur khusus di kebunnya yang dikenal sebagai "Sandwalk". Di sanalah ia merenungkan seleksi alam dan perubahan spesies. Ia tidak banyak menulis tentang berjalan itu sendiri, tetapi karya besarnya lahir dari ritme jalan yang teratur.
Hannah Arendt (1906–1973), filsuf politik abad ke-20 yang menekankan pentingnya berpikir kritis dan tanggung jawab moral, juga gemar berjalan. Di New York, ia berjalan menyusuri kota dan merefleksikan dunia modern yang, menurutnya, tidak lagi ditopang oleh otoritas maupun tradisi. Jalan kaki menjadi momen dialog sunyi antara individu dan zamannya.
Jika ditarik benang merahnya, para pemikir ini hidup di masa yang berbeda, dengan ajaran yang saling bertentangan sekalipun. Ada yang religius, ada yang ateis; ada yang optimistis, ada yang muram. Namun mereka bertemu pada satu kebiasaan yang sama: berjalan dengan sadar.
Mereka tidak berjalan sambil terdistraksi oleh hal lain. Jalan kaki adalah aktivitas utama, bukan sisa waktu. Pikiran lahir dari langkah, bukan dari layar.
Di sinilah kritik halus terhadap kebiasaan kita hari ini menemukan relevansinya. Kita berjalan, tetapi tidak sungguh-sungguh berjalan. Kita menambah langkah, tetapi memotong kesadaran. Kita mengira diri sehat karena angka naik, padahal perhatian turun.
Penelitian kesehatan modern dan tradisi filsafat lama bertemu pada satu simpulan yang sama: kualitas mengalahkan kuantitas. Lima belas menit berjalan dengan utuh -tanpa scroll layar ponsel, tanpa tergesa- bisa lebih bermakna daripada ribuan langkah yang terpecah oleh distraksi.
Mungkin inilah ironi sekaligus pelajaran zaman ini. Untuk menjadi lebih sehat dan lebih waras, kita tidak perlu menambah target, melainkan mengurangi gangguan. Tidak perlu menjadi atlet, cukup menjadi pejalan yang hadir sepenuhnya.
Sebab, seperti yang diam-diam telah diajarkan para filsuf itu, jalan kaki bukan sekadar cara memindahkan tubuh dari satu titik ke titik lain. Ia adalah cara memindahkan pikiran dari kebisingan menuju kejernihan. Dari situlah, jantung dan akal budi sama-sama belajar berdetak dengan lebih manusiawi.
BERITA TERKAIT: