Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Gangguan Telinga Bikin Anak Sulit Menangkap Pelajaran Di Sekolah

32 Juta Anak Di Dunia Menderita Serumen Prop

Minggu, 17 Maret 2013, 08:09 WIB
Gangguan Telinga Bikin Anak Sulit Menangkap Pelajaran Di Sekolah
ilustrasi/ist
rmol news logo .Gangguan pendengaran pada telinga kerap ditemukan pada anak-anak sekolah akibat adanya sumbatan kotoran telinga atau serumen prop. Gangguan tersebut, akan mengganggu proses penyerapan pelajaran bagi anak di sekolah.

Data organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, 5,3 persen populasi dunia atau sekitar 360 juta orang mengalami gangguan cacat pendengaran. Dari jumlah tersebut, sekitar 91 persen atau 328 juta adalah orang dewasa dan 9 persen atau sekitar 32 juta adalah anak-anak.

Di Indonesia, jumlah penderita gangguan pendengaran diper­kirakan mencapai sekitar 9,6 juta orang. Rata-rata, penyebab gang­guan pendengaran, adalah sum­batan kotoran telinga atau se­rumen prop.

Berdasarkan survei cepat yang dilakukan oleh Profesi Perhati dan Departemen Mata Fakultas Kedokteram Universitas Indo­nesia (FKUI) di beberapa sekolah di enam kota di Indonesia, pre­valensi serumen prop pada anak sekolah cukup tinggi, yaitu antara 30-50 persen.

Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengungkapkan, masalah sumbatan kotoran te­linga bisa mengganggu proses be­lajar, sehingga perlu dilakukan penanggulangan bersama.

“Serumen prop banyak dite­mukan pada anak-anak usia sekolah. Sumbatan serumen dapat mengakibatkan gangguan pen­dengaran sehingga akan meng­ganggu proses penyerapan pe­lajaran bagi anak sekolah. Di­butuhkan pemeriksaan atau de­teksi dini agar anak-anak ter­hindar dari penyakit ini,” tegas Ali di Jakarta.

Ketua Komite Nasional Pe­nanggulangan Gangguan Pen­dengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) Damayanti Soetjipto mengatakan, kotoran yang me­nyumpal dan mengeras di telinga membuat anak sulit mendengar saat di kelas, dan mengganggu proses belajar.

“Guru yang tak memahami masalah ini, akan beranggapan anak tersebut tak menyimak, dan bodoh. Padahal, ada kotoran yang menyumbat di telinga sehingga me­reka berusaha mendengar de­ngan jalan-jalan ke depan kelas dan kesulitan berkonsentrasi,” ujarnya.

Serumen, lanjut Damayanti, merupakan hasil produksi ke­lenjar-kelenjar liang telinga, lepasan kulit, dan partikel debu. Baunya yang khas menjaga, agar serangga tidak masuk telinga. Kepadatan serumen dipengaruhi iklim, usia, kondisi lingkungan, dan faktor keturunan.

Serumen berada di sepertiga luar liang telinga. Namun, se­rumen bisa mengembang se­hingga menutup liang telinga dan menyebabkan ketulian ringan hingga sedang. Damayanti men­contohkan, saat anak berenang, kotoran di dalam telinga akan mengembang karena terkena air lalu mengeras.

“Anak-anak di pedesaan yang suka bermain di sungai atau anak-anak pesisir yang sering di pantai dan laut berpeluang besar meng­alami sumbatan kotoran,” kata Damayanti yang juga dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan RS Khusus THT Bedah Proklamasi itu.

Jika dibiarkan, kotoran itu mengeras dan semakin sulit dikeluarkan. Biasanya, begitu kotoran dikeluarkan, anak segera mendengar lagi. Untuk mengatasi kotoran yang menyumpal, dibu­tuhkan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan.

Guna menghindari sumbatan kotoran terlalu lama di telinga, orangtua dan guru diharapkan secara periodik memeriksa te­linga anak.

“Hadapkan senter ke telinga anak. Kotoran yang menyumbat akan terlihat berwarna kehi­taman,” imbuhnya.

Direktur Bina Upaya Kese­hatan Dasar Kementerian Kese­hatan, Dedi Kuswenda me­nga­takan, separuh kondisi gangguan pendengaran sebetulnya dapat dicegah dan diatasi.

“Permasalahan utamanya, ku­rangnya pengetahuan seputar menjaga kesehatan pen­de­nga­ran,” ujarnya.

Untuk itu, dia meminta pe­merintah meng­utamakan so­sia­lisasi guna meng­ubah kebiasaan buruk dan me­ning­katkan ke­mam­puan masya­rakat dalam menjaga kesehatan. Gang­guan pendengaran sekecil apa pun tak dapat dianggap remeh. Se­bab, kesehatan telinga akan meme­ngaruhi kualitas hidup anak.

Tes OAE Diklaim Bisa Sembuhkan Ketulian Pada Bayi

Ketulian kadang membuat anak-anak minder dalam per­ga­ulannya sehari-hari. Kehilangan pendengaran, termasuk salah satu kekurangan yang membuat anak-anak sulit tumbuh normal di tengah masyarakat.

Ketulian disebabkan oleh virus Toxoplasma Rubella atau cam­pak, Herpes, dan Sipilis. Ter­ka­dang kedua orangtua tidak me­nyadari bahwa dirinya telah me­ngidap virus tersebut, se­hingga bisa menyebabkan ke­tulian pada anak­nya kelak.

Untuk mengetahui kondisi koklea (rumah siput) pada bayi, sebaiknya lakukan tes Otoa­coustic Emmision (OAE).

“Tes EOA akan lebih baik, jika dilakukan setelah bayi lahir. Jika dari hasil tes dinyatakan koklea bayi dalam keadaan bagus, ber­arti lulus. Jika didapat indikasi kerusakan, perlu segera di­ta­ngani,” kata dr Semira S, ahli THT dari Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo.

Ditambahkannya, jika keru­sakan pendengaran terdeteksi sejak dini, bayi masih mem­punyai harapan untuk bisa ber­bicara layaknya anak normal.

Ketika diketahui ada ke­ru­sakan, maka anak langsung di­pasang alat bantu dengar, se­hingga sejak dini bayi akan tetap mendapat stimulus suara.

“Kalau terdeteksi di bawah usia satu tahun, masih bisa dito­long. Tapi kalau sudah di atas itu, tidak bisa. Anak sudah terbiasa me­minta dengan isyarat,” katanya.

Menurut Mira, kebanyakan rumah sakit besar di Jakarta sudah mempunyai fasilitas OAE. Proses OAE tidak memakan waktu yang lama hanya satu menit, biayanya pun sekitar  Rp 75.000-100.000.

“Inisiatif orangtua juga di­perlu­kan untuk pemeriksaan ini, karena tidak semua rumah sakit mena­warkan fasilitas tersebut,” jelasnya.

Kalaupun ada kerusakan pada koklea, lanjutnya, pendengaran anak masih bisa diperbaiki de­ngan cara implantasi koklea. Saat ini, Rumah Sakit Cipto Ma­ngunkusumu (RSCM) sudah dilengkapi fasilitas implantasi Koklea. Departemen THT (Te­linga Hidung dan Tenggorokan) RSCM/FKUI sendiri telah me­mulai untuk mengembangkan implantasi Koklea (Rumah siput) sejak tahun 2002. [Harian Rakyat Merdeka]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA