Masa tumbuh kembang saat anak baru belajar jalan mesti diperhatikan. Jika sering jatuh, kaki jinjit dan memiliki bentuk lingkar O, harus diwaspadai. Sebab, kondisi itu bisa mengganggu pertumbuhan tulang kaki saat dewasa.
Kelainan pada kaki dapat diÂsebabkan kurangnya asuÂpan gizi yang tidak seimbang, faktor keÂturunan dan stimulasi yang tidak benar. Misalnya, pengÂgunaan sepatu yang bukan ukurannya. Jika anak meminta pakai sepatu high heels karena meÂnÂcontoh gaÂya penampilan orang dewasa, seÂbaiknya dihindari.
Menurut dokter spesialis ortoÂpedi dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya Lukman ShebuÂbakar, saat lahir, fungsi kaki anak beÂlum tumbuh dengan baik. DiÂbuÂtuhkan waktu 18 tahun untuk tumbuh menÂjadi kaki dewasa.
“Proses tumbuh kembang akan terus berubah, karena sendi-senÂdi pada tungkai (dari paha hingÂga pergelangan kaki) dan kaki anak masih bisa berÂputar,†ujar LukÂman pada seÂminar media di JaÂkarta, MingÂgu (13/1).
Dia mengatakan, pertumbuhan tulang anak harus diperhatikan dengan benar, terutama soal pengÂgunaan sepatu yang bukan ukurannya. Pasalnya, kondisi tulang anak berbeda dengan orang dewasa.
“Anak di usia berapa pun seÂbaiknya tidak memakai high heels. Jika anak meminta harus sesuai ukuran kakinya, karena mencontoh gaya peÂnampilan orang dewasa berisiko mengÂganggu pertumbuhan tulang anak,†warning Lukman.
Menurutnya, kelainan tuÂlang, sendi dan otot anak telah ada daÂlam kandungan saat pemÂbenÂtukan janin. Bila dalam perÂtumbuhan kaki bayi mengÂalami gangguan, maka tidak hanya meÂnyebabkan peÂnamÂpilan kuÂrang menarik secara estetika. TeÂtapi juga berisiko pada perÂtumÂbuhan kaki yang tidak sama antara kaki kiri dan kaki kanan.
Dikatakan Lukman, untuk memperbaiki posisi kaki yang tidak benar, diÂperlukan waktu 1-2 tahun. IdealÂnya dilakukan saat usia anak kuÂrang dari 5 tahun. Bila usia anak lebih dari 7 tahun, teÂrapinya akan lebih lama karena putaran tulang anak semakin seÂdikit. Pasalnya, saat usia anak 7 tahun, rotasi tungÂkai kaki mulai jauh berkurang sehingga dibuÂtuhkan stimulasi agar pertumÂbuhan kaki anak menjadi baik.
“Tanpa terapi, pasien dengan kelainan ini akan berjalan dengan bagian luar kaÂkinya (miring), yang mungkin menimbulkan nyeÂri hingga disaÂbiÂlitas atau cacat,†terang Lukman.
Namun, beberapa kejadian keÂbanyakan anak dengan keÂlainan tulang, akan memiliki atrofi (peÂnyusutan jaringan) otot betis, yang tidak hilang setelah terapi. Hal itu yang mengÂakibatkan peÂruÂbahan bentuk otot kak.
Menurut dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya Atilla Dewanti, untuk mencegah terjadinya cacat, peÂraÂwatan harus dilakukan sedini mungkin. Minimal beberapa hari setelah lahir. Di antaranya peÂÂmeÂriksaan aktif, menjaga asupÂan kalsium dan gizi sampai pertumÂbuhan anak dewasa.
“Rehabilitasi medis pada penÂderita sangat penting untuk menÂÂcegah terjadinya disabilitas secaÂra dini maupun setelah diÂlakukan tindakan pemeriksaan secara akÂtif,†paparnya.
Selain itu, tambahnya, gangÂguan ini bisa menyebabkan anak jalan jinjit yang dapat mengÂakiÂbatkan tumit belakang menÂjadi pendek yang membuat anak tidak mampu menapak. Kelainan kaki berÂbentuk flat (kaki tampak ceÂper/rata) pada dasarnya tidak menjadi masalah jika tidak mengÂubah sudut-sudut lain di kaki.
“Jika kaki cepat capek, maka titik berat menjadi tidak tepat. Bentuk kaki menjadi tidak beÂnar karena tulang menjadi penÂdek sebelah. Maka, penting bagi ibu hamil untuk memÂperhatikan asupan gizi. SeÂtidaknya memÂberi energi baik bagi bayi yang bisa meÂmiÂnimalkan kelainan saat meÂlahirkan,†ujarnya.
Penggunaan Bedong Hambat Pertumbuhan Tulang Bayi
Kebiasaan menggunakan bedong atau mengikat tubuh bayi dengan kain, bisa memÂbaÂhayakan tumbuh kemÂbang anak. Pasalnya, bedong bisa membuat peredaran darah terÂgangÂgu. Hal ini terjadi karena kerja jantung dalam memompa darah menjadi berat. Akibatnya, bayi sering saÂkit di sekitar paru-paru. PengÂgunaan beÂdong bisa menghambat pertumÂbuhan tuÂlang bayi.
Menurut Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya Atilla Dewanti, beÂdong bisa menghambat perÂkemÂbangan motorik si bayi, karena tangan dan kakinya tak menÂdapatkan banyak kesempatan untuk bergerak.
“Sebaiknya bedong dilakukan setelah bayi dimandikan atau kala cuaca dingin untuk menÂjaÂga dari udara dingin. DipakaiÂnya pun harus longgar. Yang jeÂlas, pemaÂkaian bedong sama seÂkali tak ada kaitannya dengan pemÂbentukan kaki,†ungkap Atilla pada seÂmiÂnar media di JaÂkarta, Minggu (13/1).
Dia mengatakan, semua kaki bayi yang baru lahir pasti mengÂalami kebengkokan. Sebab, di dalam perut tak ada ruangan cuÂkup bagi bayi untuk meluruskan kaki sehingga waktu lahir kaÂkinya masih bengkok.
Dia meÂmandang, sebagian ibu memÂbedong bayinya bertujuan agar dapat tidur tenang. PasalÂnya, hingga usia enam bulan bayi meÂngalami refleks kaget (rasa kaget secara tiba-tiba).
“Nah, jika beÂdong dipakai longÂgar, bayi meraÂsa seperti ada yang memeluk dan bayi bisa tidur lagi,†katanya.
Atilla menegaskan, pengÂguÂnaan bedong tidak ada huÂbuÂnganÂnya dengan pembentukan kaki anak. Kelainan kaki pada anak, terjadi karena kelainan kelenjar parathyroid. Di mana, kelenjar ini mengatur kadar dan penyeÂrapan kalsium yang juga berfungÂsi pembentukan tulang. Jika, pembentukan tulang terÂhambat, maka kelainan kaki cenderung membentuk huruf ‘X’ dan ‘O’.
Atilla menyebut, di negara-neÂgara yang cukup meÂnÂdapat sinar matahari seperti InÂdonesia, keÂcenderungan terjaÂdiÂnya kelainan kaki sedikit. Hal itu dikarenakan kulit mampu memÂbuat vitamin D3 untuk pemÂbenÂtukan tulang dari sinar matahari.
“Lebih baik, jemur anak di bawah sinar matahari pada pagi hari daripada hanya menganÂdalkan bedong demi pemÂbenÂtukan tulang,†sarannya.
Dokter spesialis ortopedi dari Rumah Sakit Ibu dan Anak BraÂwijaya Lukman Shebubakar meÂnambahkan, kenyamanan kaki anak pada masa pertumbuhan menjadi faktor penting.
MakaÂnya, ia menyarankan orang tua untuk mempertimÂbangkan keÂnyaÂmanan di kala pertumbuhan sesuai usia anak. Salah satunya, penggunaan alas kaki. Alas kaki menjadi faktor penopang keÂsemÂpurnaan perÂtumÂbuhan tulang kaki.
“Telapak kaki menjadi sangat fungsional sekaligus krusial daÂlam pertumbuhan kaki. MaÂkanya, kenyamanan penggunaan sepatu pada anak ikut memÂpengaruhi perkembangan di masa pertumÂbuhan anak,†ungÂkap Lukman.
Lukman meminta, orangtua sebaiknya tidak memakaikan seÂpatu yang keras pada bayi. GuÂnakan sepatu bayi yang berÂbahan lembut atau lunak dan longÂgar sehingga organ kaki bayi memÂpunyai ruang yang cukup untuk bergerak sehingga perÂtumbuhan tidak terhambat.
“Terkadang orangtua memaksa anak untuk memakai sepatu terÂtentu karena modelnya yang canÂtik. Sampai-sampai keinginan putrinya untuk pakai sepatu high heels diizinkan. Ini yang keliru karena akan mengakibatkan ceÂdera dan kelainan kaki,†tanÂdasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: