Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Jarang Sarapan Bikin Badan Lemas & Sulit Berkonsentrasi

Kebutuhan Gizi Seimbang Harus Dijaga

Jumat, 18 Januari 2013, 08:18 WIB
Jarang Sarapan Bikin Badan Lemas & Sulit Berkonsentrasi
ilustrasi/ist
rmol news logo Sarapan sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan kinerja otak dalam mengawali aktivitas sepanjang hari. Jika tidak sarapan, bisa menyebabkan tubuh mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah rendah, yang membuat kondisi tubuh menjadi lemas dan sulit berkonsentrasi.

Sarapan bertujuan untuk me­menuhi kebutuhan zat gizi di pagi hari, sebagai bagian dari pe­­me­nuhan gizi seimbang.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Per­him­punan Peminat Gizi dan Pa­ngan (Pergizi Pangan) Indo­nesia Har­dinsyah dalam De­kla­rasi “Pekan Sarapan Nasional (Pesan)” dan Simposium Na­sio­nal Sarapan Sehat di Jakar­ta, Selasa (8/1).

“Jarang sarapan pagi bisa mem­buat otak sulit bekerja de­ngan baik, ngantuk, sulit ber­kon­sen­trasi, pusing sampai ver­tigo aki­bat kekurangan oksigen dalam tubuh,” kata Hardinsyah.

Selain lemas, pusing dan ngan­tuk, lanjut Hardiansyah, pende­rita akan se­ring berke­ri­ngat aki­bat ke­ku­ra­ngan ener­gi dari asup­an ma­kanan.

“Gejala ini bisa menimpa sia­pa saja, mulai dari usia anak-anak hingga orang dewasa. Hal ini di­karenakan rendahnya glu­kosa akibat jarang sarapan,” warning Hardinsyah.

Dia mengatakan, sara­pan ber­manfaat membantu men­ce­gah hipoglikemia, men­sta­bil­kan ka­dar glukosa darah dan men­cegah dehidrasi setelah ber­puasa sepan­jang malam.

“Otak dan stamina mem­bu­tuhkan kesiapan energi yang di­sediakan dari sarapan sebelum beraktivitas,” ujar Hardinsyah.

Berdasarkan data yang dihim­pun Riset Kesehatan Dasar (Ris­­kes­das) 2010, menurut Har­­din­syah, prevalensi tidak biasa sa­rapan pada anak dan remaja men­capai 16,9 hingga 59 persen, dan pada orang de­wasa menca­pai 31,2 persen. Sebanyak 4,6 persen anak se­kolah memiliki sarapan dengan kualitas rendah.

“Padahal sarapan itu penting un­tuk meningkatkan stamina otak dan fisik, konsentrasi be­lajar, kenyamanan kerja serta belajar terutama pada anak se­kolah,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak Ke­men­­te­rian Kesehatan (Kemen­kes) Slamet Riyadi Yuwono me­ng­atakan, selain me­nyum­bangkan glukosa, sarapan juga membe­rikan zat gizi yang pen­ting bagi tubuh yang ber­peran dalam me­ka­nisme daya ingat (kognitif) me­mori anak, dan itu mem­pe­nga­ruhi ­tingkat ke­cer­dasan anak.

“Apabila terjadi ke­ter­lam­bat­an masukan zat gizi (asu­pan gula ke dalam sel darah), maka dapat menurunkan daya kon­sentrasi anak sewaktu belajar yang timbul karena lemas, lesu, pusing dan mengantuk,” terang Slamet.

Beberapa penelitian menun­juk­kan, bahwa terdapat hubu­ng­an nyata antara kebiasaan sa­rapan dengan kadar glukosa da­rah anak usia sekolah. Hal itu meng­aki­batkan menurun­nya gai­rah be­lajar, kecepatan reaksi, ser­ta ke­sulitan dalam mene­ri­ma pela­jaran dengan baik.

Program Pesan Diklaim Mampu Tumbuhkan Kesadaran Sarapan

Untuk meningkatkan kesadar­an pentingnya sarapan di  masya­rakat, Perhim­punan Peminat Gizi dan Pangan (Pergizi Pa­ngan) In­donesia ber­sama Persa­tuan Ahli Gizi Indo­nesia (Persa­gi), Perhim­punan Dok­ter Gizi Medik In­donesia (PDGMI) dan Perhim­punan Dok­ter Gizi Klinik Indo­nesia (PDGKI) meng­gelar prog­ram Pekan Sara­pan Nasio­nal (Pe­san) bagi masyarakat.

Sarapan sangat penting, kare­na asupan energi dan gizi di pagi hari mampu meno­pang aktivitas tu­buh sepanjang hari. “Apa­lagi, de­ngan sarapan, lam­bung akan terisi kembali sete­lah 8-10 jam kosong se­hingga kadar gula dalam darah meningkat lagi,” kata Di­rek­tur Jen­deral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak Kemen­terian Kesegatan (Ke­menkes) Slamet Riyadi Yuwono.

Menurutnya, sarapan sehat adalah sarapan yang dilakukan setiap hari sebelum pukul 9 pagi, dan memenuhi 15 hingga 30 per­sen kebutuhan gizi harian yang aman dikonsumsi. Sarapan me­ru­pakan salah satu pilar gizi se­im­bang untuk mewujudkan hi­dup sehat, cerdas dan produktif.

“Tak hanya itu, dampak buruk tidak sarapan dapat mempe­nga­ruhi status gizi anak, turunnya kesehatan dan stamina anak serta pencapaian prestasi opti­mal pada anak,” jelas Slamet.

Kegiatan ini, katanya, sa­ngat mendukung upaya peme­rintah untuk menangani gizi kurang, gizi lebih dan stunting (anak dengan ukuran tubuh pen­dek).

Ia juga menekankan, sarapan seharusnya menjadi waktu m­a­kan yang terpenting, namun se­ringkali orang menyepelekan.

“Sarapan ibarat ukuran baju seharusnya sarapan ukuran L, ma­kan siang M dan makan ma­lam S. Sarapan bukan hanya pen­ting untuk kecerdasan otak dan kekuatan fisik. Namun juga mem­pe­ngaruhi orang secara emo­­sional,” jelas Slamet.

Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Hardinsyah me­nam­bahkan, sarapan berkua­li­tas se­baiknya tidak cukup dengan pe­menuhan karbohidrat saja, na­mun juga zat gizi lainnya harus terpenuhi. Harus ada protein, lemak, vitamin, mineral, air dan serat agar semua proses me­ta­bo­lis­me di dalam tubuh dapat ber­langsung dengan baik.

Sarapan sehat adalah sarapan yang dilakukan setiap hari se­be­lum pukul 9 pagi. Santapan pagi ini juga harus memenuhi 15 hingga 30 persen kebutuhan gizi harian.

Menko Kesra Agung Laksono menyatakan dukungannya dan apresiasi pada semua pihak yang menggagas serta memo­tori ke­giatan Pesan.

“Pekan Sarapan Nasional ini memiliki dampak yang sangat baik dalam mempercepat tujuan pemerintah, khususnya perbaik­an gizi dan pangan,” ucapnya.

Program Pesan ini pun diha­rap­kan Agung dapat menjadi momen­tum berkala setiap tahun untuk selalu mengingatkan dan men­do­rong ma­syarakat mewu­judkan gizi seim­bang dalam ber­aktivitas.

40 Persen Anak­ Indonesia Tidak Terbiasa Breakfast

Breakfast  (sarapan) Tak ha­nya berguna sebagai sumber energi pada pagi hari. Sarapan juga mam­pu mencegah risiko kege­mukan bahkan obesitas.

“Jarang sarapan merupakan salah satu faktor risiko kege­mu­kan, karena mereka yang tidak mengkonsumsi sarapan cen­de­rung lebih rakus pada saat ma­kan siang dan makan malam. Hal ini bisa mengakibatkan ke­ge­mukan bila menjadi satu ke­bia­saan,” ujar Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Har­dinsyah.

Menurut Hardinsyah, orang yang meng­­konsumsi sarapan sehat dan ber­kualitas baru me­ra­sakan rasa la­par pada waktu yang lebih lama, ka­rena tubuh su­dah me­miliki energi yang cu­kup ber­kat sarap­an.

“Sarapan yang sehat dan ber­kua­litas harus mengandung zat gizi yang diperlukan tubuh se­per­ti protein, lemak, vitamin, mine­ral, air dan serat agar proses me­ta­bolisme tubuh dapat ber­lang­sung baik,” katanya.

Ahli dan pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor  (IPB) ini me­nye­butkan, sekitar 20 hingga 40 per­sen anak-anak Indonesia ti­dak terbiasa untuk sarapan. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA