Awal Intervensi Amerika di Iran
Amerika memiliki
sejarah panjang campur tangan dalam urusan internal Iran. Tanggal 19
Agustus 1953 menandai titik balik sejarah hubungan Iran-Amerika. Perdana
Menteri Iran, Mohammad Mossadegh, digulingkan dalam kudeta yang
direkayasa oleh CIA dan intelijen Inggris MI6. Alasan utamanya adalah
Mossadegh berani menasionalisasi industri minyak Iran yang selama
puluhan tahun dikuasai perusahaan Anglo-Iranian Oil Company milik
Inggris.
Kermit Roosevelt, cucu Presiden Theodore Roosevelt dan
agen CIA yang memimpin operasi, membawa koper berisi uang tunai ke
Tehran untuk menyuap editor surat kabar, membayar demonstran jalanan,
dan menciptakan partai komunis palsu sebagai kambing hitam, dan
menewaskan sekitar 300 orang di Tehran. Propaganda melalui media massa,
selebaran, dan jaringan klerus Tehran digunakan untuk melemahkan
pemerintahan Mossadegh dengan cara apapun.
Kemudian Mossadegh
ditangkap, dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, dan menghabiskan sisa
hidupnya dalam tahanan rumah hingga meninggal tahun 1967. Selama dua
puluh lima tahun (1953-1979) Amerika mendukung penuh rezim Shah Mohammad
Reza Pahlavi untuk berkuasa. Dan sebagai ucapan terima kasih atas
bantuan Amerika, Shah menyerahkan 40 persen ladang minyak Iran kepada
perusahaan-perusahaan Amerika.
Sanksi yang Berkepanjangan
Revolusi
Islam 1979 mengubah Iran dari sekutu utama Amerika kembali menjadi
musuh ideologis. Ketika krisis sandera dimulai pada 4 November 1979,
Amerika tidak memiliki sanksi formal terhadap Iran, tetapi Presiden
Carter segera mencari cara untuk menekan Tehran. Sepuluh hari kemudian,
Carter menandatangani Executive Order 12170, membekukan aset pemerintah
Iran senilai sekitar 8 miliar dolar di Amerika.
Ini adalah
penggunaan pertama kali dari International Emergency Economic Powers Act
(IEEPA) yang memberi presiden kewenangan luas untuk memberlakukan
sanksi ekonomi. Sejak saat itu, sanksi menjadi senjata utama Washington
melawan Tehran, sebuah pola yang berlanjut hingga hari ini.
Bentuk
intervensi Amerika yang paling memalukan terjadi selama Perang
Iran-Irak (1980-1988). Ketika Saddam Hussein menginvasi Iran pada
September 1980, Washington melihat peluang untuk melemahkan rezim Islam
yang baru berdiri. Amerika memberikan dukungan kepada Irak dalam bentuk
miliaran dolar bantuan ekonomi, teknologi dual-use, berbagi intelijen,
dan pelatihan operasi khusus.
Setelah Perang Irak-Iran berakhir,
Amerika mengubah strategi dari dukungan terhadap musuh Iran menjadi
isolasi langsung terhadap Tehran. Pada tahun 1995, Presiden Clinton
melarang perusahaan Amerika dari berpartisipasi dalam kesepakatan minyak
dengan Iran. Ini diperkuat oleh Iran and Libya Sanctions Act tahun
1996, yang menetapkan sanksi multilateral terhadap Iran sebagai hukum
federal.
Era Bush membawa eskalasi baru. Pada tahun 2007, ABC
News melaporkan bahwa Presiden Bush telah mengotorisasi operasi rahasia
senilai 400 juta dolar untuk menciptakan kerusuhan di Iran. Menurut The
Daily Telegraph, CIA juga memberikan dukungan kepada organisasi militan
Sunni bernama Jundullah, yang meluncurkan serangan ke Iran dari basis
mereka di Pakistan.
Sanksi Amerika terhadap Iran adalah bentuk
perang ekonomi yang menghancurkan kehidupan jutaan warga sipil. Sejak
1979, sanksi telah menargetkan sektor energi, perbankan, dan perdagangan
Iran.
Menurut estimasi Kementerian Tenaga Kerja dan Layanan
Sosial Iran, sanksi internasional telah mendorong sepertiga rakyat Iran
ke dalam kemiskinan. Inflasi mencapai 40 persen, pengangguran meningkat,
dan daya beli masyarakat anjlok drastis.
Ironi hingga hari ini,
Amerika masih memberlakukan sanksi yang menghancurkan ekonomi Iran,
kemudian ketika rakyat Iran turun ke jalan memprotes kesulitan ekonomi
yang disebabkan oleh sanksi tersebut, dan Amerika ingin tampil sebagai
pendukung hak asasi manusia dan demokrasi.
Perjuangan Iran adalah Perjuangan Kita
Setelah
kesuksesan Operasi Ajax di Iran tahun 1953, Amerika menggulingkan
pemerintah demokratis Jacobo Arbenz di Guatemala tahun 1954. Kemudian
disusul dengan intervensi di Kongo (1960), Brazil (1964), Chile (1973),
Uruguay (1973), Argentina (1976), dan yang terkini 3 Januari 2026,
penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro pada "Operasi Absolute
Resolve".
Tujuh dekade intervensi Amerika di Iran mengungkap
kebenaran yang tidak nyaman, imperialisme tidak pernah berakhir setelah
era kolonial formal. Ia hanya berganti bentuk dari pendudukan militer
langsung menjadi kontrol ekonomi, dari administrasi kolonial menjadi
rezim boneka, dari kapal perang menjadi sanksi perbankan.
Cuitan
Trump di Truth Social tentang "locked and loaded" adalah klimaks dari
tujuh dekade agresi yang sistematis dan terkalkulasi. Ini adalah puncak
dari sebuah strategi yang dimulai dengan surat CIA berisi uang di
Teheran tahun 1953 dan berlanjut hingga malware komputer yang
menghancurkan sentrifugal nuklir di Natanz.
Dunia harus memahami
bahwa apa yang Amerika lakukan terhadap Iran dapat dan telah dilakukan
terhadap negara manapun yang menentang hegemoni Washington. Pola selalu
sama: denominasi, isolasi, destabilisasi dan jika memungkinkan,
perubahan rezim.
Bagi Indonesia dan negara-negara non-blok
lainnya, perjuangan Iran adalah peringatan keras. Kedaulatan nasional
harus dilindungi dengan ketahanan ekonomi, kemandirian strategis, dan
kemampuan untuk melawan perang informasi. Karena dalam sistem
internasional yang didominasi oleh satu kekuatan adidaya, setiap negara
yang menolak subordinasi akan menghadapi harga yang harus dibayar.
Politik
luar negeri Indonesia bersandar pada prinsip "Bebas-Aktif" yang
dicetuskan Mohammad Hatta melalui pidato "Mendayung di antara Dua
Karang" pada tahun 1948. Indonesia tidak terikat pada blok kekuatan
manapun dan turut berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Di
saat negara besar melakukan invasi terhadap negara berdaulat, Indonesia
harus berperan sebagai mediator jujur yang berpijak pada hukum
internasional dan piagam PBB. Indonesia tidak memihak demi kepentingan
politik praktis, tapi wajib bersikap tegas dan mengutuk pelanggaran
integritas wilayah kedaulatan sebuah negara, baik yang dilakukan oleh
Amerika, Rusia ataupun China.
Indonesia harus memastikan bahwa
tatanan dunia tetap berdasarkan oleh kemerdekaan, kebebasan dan keadilan
sosial. Bukan atas kekuatan militer semata.
Bobby Ciputra
Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI)
BERITA TERKAIT: