Benarkah Rakyat Indonesia Paling Bahagia di Dunia?

Rabu, 07 Januari 2026, 12:42 WIB
Benarkah Rakyat Indonesia Paling Bahagia di Dunia?
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Istimewa)
KATA Presiden Prabowo Subianto, rakyat Indonesia adalah rakyat paling bahagia di dunia. 

Pernyataan ini bukan hasil polling sambil ngopi di warkop, tapi bersandar pada Global Flourishing Study, riset internasional kolaborasi Harvard University, Baylor University, dan Gallup, melibatkan responden dari hampir 200 negara. 

Dalam survei ini, Indonesia mencetak skor kebahagiaan sekitar 8 koma sekian dari 10. Ini tertinggi dalam kategori orang yang melaporkan dirinya merasa bahagia. Angka ini sah, global, dan cukup untuk membuat negara-negara maju mengernyit, “kok bisa?”

Saya yakin kalian yang baca ini sambil seruput Koptagul, orang paling bahagia itu. Benarkan? Lebih jelasnya simak sampai habis narasi ini.

Begitu kabar bahagia ini menyebar, munculah suara pemalas berijazah filsafat dari balik selimut. “Kalau rakyat Indonesia sudah paling bahagia di dunia, buat apa lagi kerja keras?”

Pertanyaan ini tidak bodoh. Ia malas, tapi jujur. Bukankah kita hidup di dunia untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat? Kalau dunia sudah bahagia, kenapa harus ngos-ngosan? Tinggal jaga kebahagiaan, bukan mengejarnya. Camanewak?

Masalahnya, survei ini tidak menanyakan saldo ATM, harga rumah, atau umur pensiun. Yang ditanya adalah perasaan hidup. Apakah hidup terasa bermakna, apakah masih punya relasi sosial, apakah batin relatif tenang. 

Jadi yang diukur bukan kerasnya hidup, tapi cara manusia berdamai dengan hidup. Orang Indonesia, dengan bakat alami menertawakan nasib, menjawab, “ya, saya bahagia,” meski besok tetap bangun subuh dan cicilan belum lunas.

Agar kita tidak langsung mengesahkan Undang-Undang Rebahan Nasional, mari lihat data lain yang jarang dibawa ke panggung pidato, angka bunuh diri. 

Indonesia pada 2024 mencatat sekitar 4.750 kasus bunuh diri, dengan rasio 1,7 per 100 ribu penduduk. 

Angka ini relatif rendah secara global, tapi ada catatan yang bikin dahi berkerut, dalam lima tahun terakhir trennya naik sekitar 60 persen, dan Jawa Tengah mencatat kasus tertinggi, 478 kejadian. Artinya, bahagia ada, tapi tidak merata dan tidak kebal masalah.

Bandingkan dengan negara-negara yang sering disebut “sudah jadi”. Jepang mencatat 20.268 kasus bunuh diri pada 2024, dengan rasio 21,5 per 100 ribu penduduk. Angkanya menurun, tapi pelajar dan perempuan justru makin rentan.

Korea Selatan lebih ekstrem lagi. Dalam enam bulan pertama 2025 saja, tercatat 7.067 kasus, dengan rasio 28,1 per 100 ribu, tertinggi di antara negara OECD. Bunuh diri bahkan menjadi penyebab kematian utama pada usia 40-an dan lansia. 

Tiongkok menunjukkan tren berbeda, rasio sekitar 6,9 per 100 ribu pada 2025, menurun dari 7,3 pada 2023 dan diproyeksikan terus turun hingga 2028.

Di sinilah ironi global menari-nari. Negara-negara yang sering dijadikan role model kesejahteraan justru punya angka bunuh diri tinggi. 

Sementara Indonesia, yang gemar mengeluh soal ekonomi dan fasilitas, angkanya lebih rendah. 

Psikologi menjelaskan ini dengan tenang. Penelitian, termasuk dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menunjukkan, kebahagiaan psikologis berbanding terbalik dengan ideasi bunuh diri. 

Semakin kuat rasa makna hidup, hubungan sosial, dan penerimaan diri, semakin kecil kecenderungan ingin mengakhiri hidup. 

Tapi ini bukan hukum besi. Banyak orang tampak “baik-baik saja” di luar, rajin senyum dan kerja, tapi menyimpan badai di dalam kepala.

Fenomena ini dikenal sebagai paradoks kebahagiaan. Di masyarakat yang menuntut warganya sukses dan bahagia, kegagalan terasa lebih memalukan. 

Tekanan untuk selalu tampak baik-baik saja membuat orang enggan mencari bantuan. Ditambah stigma kesehatan mental dan ketimpangan sosial yang tersembunyi di balik angka rata-rata, kebahagiaan nasional bisa tinggi, sementara penderitaan personal tetap sunyi.

Sekarang kita masukkan satu data penting lagi agar gambarnya utuh, World Happiness Report. 

Ini liga utama kebahagiaan global yang disusun berbasis Gallup World Poll, PBB, dan Oxford, dengan indikator seperti dukungan sosial, kebebasan hidup, kesehatan, dan keamanan ekonomi. 

Dalam laporan terbaru, negara-negara paling bahagia di dunia masih didominasi oleh Finlandia, Denmark, Islandia, Swedia, Belanda, Norwegia, diselingi Kosta Rika dan Meksiko. Finlandia bahkan sudah bertengger di posisi puncak selama bertahun-tahun berturut-turut.

Di laporan ini, Indonesia tidak berada di papan atas, melainkan di kisaran peringkat 80-an dari sekitar 140-an negara, dengan skor sekitar 5,6–5,7. 

Artinya apa? Artinya ada dua kebenaran yang hidup berdampingan tanpa saling membatalkan. Dalam satu survei, banyak orang Indonesia merasa bahagia secara subjektif. Dalam survei lain, secara struktural dan objektif, kualitas hidup kita masih biasa-biasa saja.

Maka ketika Prabowo mengatakan rakyat Indonesia paling bahagia, itu bukan klaim bahwa hidup di sini tanpa masalah, apalagi ajakan untuk berhenti kerja keras. 

Itu cermin yang menunjukkan satu hal penting, di tengah hidup yang belum ideal, banyak orang Indonesia masih menemukan alasan untuk bertahan dan tersenyum. Kebahagiaan di sini bukan euforia, tapi daya tahan.

Kesimpulannya sederhana tapi tidak dangkal. Bahagia bukan alasan untuk malas, tapi modal untuk berjuang. Bahagia di dunia tanpa ikhtiar hanya akan jadi bahagia sebentar. 

Bahagia di dunia dan akhirat, seperti kata pepatah lama, tetap butuh usaha. Meski, tentu saja, usaha itu sah-sah saja diselingi rebahan.rmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA