Di permukaan, semua dikaitkan dengan isu keamanan, kesehatan, atau geopolitik. Namun di bawahnya, yang bekerja adalah persoalan jauh lebih mendasar: tekanan pada sistem fiat dan cadangan devisa.
Uang fiat tidak lahir dari produksi, melainkan dari keputusan hukum dan akuntansi. Ketika negara mencetak uang dalam skala besar, yang bertambah bukan barang atau jasa, melainkan klaim atas barang dan jasa. Selama klaim ini diserap oleh produksi riil, pajak, atau pembiayaan produktif, sistem masih tampak stabil. Masalah muncul ketika klaim berlebih ini justru bocor ke luar negeri melalui impor konsumtif dan wisata.
Banyak yang mengira uang berlebih dapat “dibuang” ke luar negeri lewat kegiatan berwisata, sehingga tekanan inflasi domestik berkurang. Secara mekanis, anggapan ini salah. Yang keluar bukan uang fiatnya, melainkan barang dan jasa asing yang dikonsumsi. Uang fiat domestik tetap tinggal sebagai klaim berlebih di dalam sistem, sementara negara kehilangan devisa yang seharusnya menopang nilai tukar.
Akibatnya, tekanan tidak menghilang, hanya berpindah bentuk. Dari inflasi harga domestik menjadi pelemahan nilai tukar dan inflasi impor. Outbound tourism, dalam konteks ini, bukan katup pelepas tekanan moneter, melainkan saluran kebocoran devisa. Semakin besar skala kebocoran ini, semakin rapuh posisi eksternal negara, terutama jika pencetakan uang terus berlanjut tanpa dukungan produksi riil.
Di titik inilah travel warning memperoleh makna yang berbeda. Ia bukan sekadar kebijakan keselamatan, melainkan instrumen pengendalian devisa versi lunak. Dengan menurunkan minat masyarakat bepergian ke luar negeri, negara secara tidak langsung menekan permintaan valuta asing ritel dan memperlambat arus devisa keluar. Ini memberi waktu bagi bank sentral untuk bertahan tanpa harus mengumumkan kontrol modal secara terbuka. Travel warning hampir selalu menjadi fase awal, sebelum pembatasan formal dan kontrol keras diberlakukan. Polanya berulang: imbauan lebih dulu, lalu pembatasan teknis, dan akhirnya paksaan hukum ketika tekanan sudah tidak tertahan.
Dalam konteks global saat ini, kondisi Eropa dan Asia Tenggara memperlihatkan kontras yang menarik. Eropa tampak stabil di permukaan, dengan inflasi yang relatif terkendali dan institusi yang kuat. Namun mesin ekonominya bergerak lambat. Pertumbuhan rendah, sektor manufaktur di banyak negara inti stagnan atau terkonstraksi, dan pengangguran struktural tetap menjadi beban. Stabilitas Eropa lebih menyerupai penahanan krisis daripada pemulihan struktural. Sistem fiatnya bertahan karena kapasitas institusional, bukan karena dinamika produksi yang sehat.
Sebaliknya, Asia Tenggara menunjukkan kondisi yang secara operasional lebih sehat. Pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, arus investasi asing masih mengalir, dan sektor manufaktur serta jasa relatif aktif menyerap permintaan global. Inflasi di banyak negara mulai terkendali, memberi ruang kebijakan yang lebih longgar. Ini tidak berarti kawasan ini bebas risiko. Ketergantungan pada perdagangan global dan arus modal tetap menjadi kerentanan. Namun secara mesin ekonomi, Asia Tenggara saat ini bergerak lebih dinamis dibanding Eropa.
Jika kesehatan ekonomi diukur bukan dari retorika stabilitas, melainkan dari pertumbuhan riil, aktivitas produksi, dan kemampuan menyerap klaim moneter baru, maka Asia Tenggara berada pada posisi yang lebih baik. Eropa lebih mapan secara institusional, tetapi lebih lemah secara dinamika. Asia Tenggara lebih lincah, meski lebih rentan terhadap guncangan eksternal.
Dalam sistem fiat, tanda-tanda krisis jarang muncul sebagai pengakuan resmi. Ia hadir dalam bentuk imbauan, peringatan, dan pengaturan perilaku. Negara yang sehat secara moneter tidak perlu mengatur ke mana warganya membawa uangnya. Ketika itu mulai terjadi, krisis sebenarnya sudah berjalan – hanya saja ia disamarkan oleh bahasa yang terdengar teknis dan netral. Dalam ekonomi fiat, krisis tidak datang dengan sirene. Ia datang dengan imbauan.
Muchamad Andi Sofiyan
Penggiat literasi dari Republikein StudieClub
BERITA TERKAIT: