Menurut Samad, dibentuknya TGPF bukan mengambil tugas kepolisian melainkan untuk membantu korps Bhayangkara.
Terlebih kepolisian telah mengeluarkan sketsa wajah yang diduga ikut terlibat dalam penyerangan Novel.
"TGPF menjadi opsi yang bisa kita harapkan untuk mempercepat. Apalagi sketsanya sudah ada. Kalau dibantu TGPF, kita tinggal menunggu hari saja," ucap Samad di gedung KPK, Jakarta Selatan, Senin (27/11).
Novel diserang oleh dua orang tidak dikenal setelah melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ikhsan yang tak jauh dari kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Pelaku menyerang dengan menyiram air keras ke arah muka Novel. Akibat tindakan tersebut salah satu mata Novel harus menjalani beberapa kali operasi di Rumah Sakit di Singapura. Penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017.
Belakangan Polisi telah merilis sketsa wajah kedua pihak yang diduga ikut terlibat dalam penyerangan Novel.
[nes]