Menurut Pudjo, jaringan Saracen yang gemar menyebar konten kebohongan (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech) di media sosial itu hanya mencari keuntungan materi.
"Terbukti dari laptop yang kita sita, ada beberapa proposal dengan jumlah nominal pembuatan ujaran kebencian puluhan juta," ungkapnya dalam diskusi bertajuk 'Saracen dan Wajah Medsos Kita' di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (26/8).
Dikatakan, proposal itu diajukan kepada calon pengguna jasa mereka. Tidak tanggung-tanggung, nilainya bisa mencapai Rp 20-an juta hingga Rp 70-an juta.
"Itu perkonten, perantaranya itu nggak langsung, jadi dari E, kemudian dioper lagi ke D dioper lagi ke C dan seterusnya, sampai pembuat ujaran kebencian," pungkas Pudjo.
[rus]