Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi militer dimulai pada pukul 06.00 waktu Pantai Timur AS (11.00 GMT). Serangan itu menyasar sistem pertahanan pantai dan fasilitas rudal Iran yang dinilai digunakan untuk mengancam kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.
"Pada pukul 06.00 waktu Pantai Timur AS (11.00 GMT), pasukan Komando Pusat AS mulai melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran. Serangan tersebut dirancang untuk semakin melemahkan kemampuan militer yang telah digunakan pasukan Iran untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM di X, dikutip Kamis, 16 Juli 2026.
Dalam pernyataan berikutnya, CENTCOM mengungkapkan serangan selama sekitar 90 menit menggunakan amunisi presisi untuk menghantam sistem pertahanan pantai serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Tunb Raya.
"Serangan tersebut semakin melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz," tulis CENTCOM.
Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap target militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga memperingatkan bahwa AS harus bersiap menghadapi penutupan seluruh koridor ekspor energi lain yang dinilai menguntungkan Washington dan sekutunya.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan negaranya belum memiliki rencana kembali ke meja perundingan.
"Saat ini kami tidak memiliki rencana untuk bernegosiasi dan fokus pada pertahanan," ujarnya.
Menurut Baghaei, Iran juga tidak akan menjalankan komitmennya selama AS dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata sementara yang telah disepakati sebelumnya.
Presiden AS Donald Trump turut meningkatkan tekanan terhadap Teheran dengan mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika negosiasi tidak segera dilanjutkan.
BERITA TERKAIT: