Langkah taktis ini bertujuan memberikan pertolongan pertama, evakuasi darurat, dan mengurai kepadatan massa selama prosesi lontar jumrah pada hari Tasyrik.
Juru Bicara Kementerian Haji, Maria Assegaff, menjelaskan di Jakarta bahwa posko MCR ditempatkan di rute strategis perlintasan untuk merespons cepat jemaah yang pingsan, tersesat, atau mengalami kelelahan ekstrem. Upaya ramah lansia, disabilitas, dan perempuan ini didukung penuh oleh 1.356 Petugas Satgas Mina yang disebar 24 jam di titik rawan, termasuk Jalan 616, Jalan 533, depan RS Mina Al-Wadi, Jalan 627, Terowongan Muaisim, dan area depan syarikah guna memastikan jemaah tetap di jalur aman.
Demi keselamatan, jemaah wajib mematuhi jadwal resmi dan menjauhi waktu larangan melontar demi menghindari cuaca panas ekstrem.
Pada 11 Dzulhijjah 1447 H, pelontaran dibagi menjadi sesi pertama (17.00-24.00 Waktu Arab Saudi) dan sesi kedua (12 Dzulhijjah dini hari pukul 00.00-04.00 WAS), dengan waktu larangan ketat pukul 11.00-18.00 WAS.
Selanjutnya pada 12 Dzulhijjah, jadwal melontar tersedia pukul 05.00-10.30 WAS dan 18.0024.00 WAS, sementara waktu larangannya adalah pukul 11.00-14.00 WAS.
Untuk hari terakhir pada 13 Dzulhijjah, jemaah dapat melontar dari pukul 05.00 hingga 12.00 WAS tanpa ada batasan waktu larangan khusus.
Maria Assegaff juga mengimbau jemaah agar selalu bergerak berkelompok di bawah arahan petugas kloter dan tidak memisahkan diri. Mengingat suhu di Mina yang sangat menyengat, jemaah diminta menjaga kondisi fisik, memakai pelindung kepala, makan teratur, serta memperbanyak minum air putih.
Kementerian Haji mengajak seluruh jemaah untuk saling peduli, terutama kepada lansia dan penyandang disabilitas, serta segera melapor ke petugas atau pos MCR terdekat jika menemui kendala.
BERITA TERKAIT: