Pernyataan ini memicu kekhawatiran, terutama di Eropa yang selama ini sangat bergantung pada perlindungan keamanan AS.
Sejak lama, Trump mengkritik NATO karena menilai banyak negara anggota, khususnya di Eropa, tidak memenuhi kewajiban belanja pertahanan. Ia beranggapan AS menanggung beban yang tidak seimbang, bahkan menyatakan bahwa perlindungan tidak seharusnya diberikan secara otomatis kepada negara yang tidak memenuhi komitmen.
Ketegangan terbaru dipicu kekecewaan Trump terhadap sikap negara-negara NATO yang tidak mendukung langkah militer AS terhadap Iran. Padahal, aturan NATO tidak mewajibkan keterlibatan dalam konflik tanpa serangan langsung terhadap anggota. Selain itu, AS juga dinilai tidak melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan sekutu sebelum bertindak.
Trump bahkan menyebut NATO sebagai “macan kertas”, menandakan organisasi yang tampak kuat namun dianggap lemah dalam praktik. Ia juga menilai negara-negara Eropa terlalu bergantung pada kekuatan militer AS tanpa kontribusi yang seimbang.
Di sisi lain, NATO tetap dipandang sebagai pilar utama stabilitas kawasan Atlantik Utara. Perannya semakin penting sejak invasi Rusia ke Ukraina, yang mendorong negara-negara anggota memperkuat kerja sama militer dan meningkatkan anggaran pertahanan.
Jika AS benar-benar keluar, dampaknya akan sangat besar. NATO berpotensi kehilangan kekuatan utamanya, sementara negara-negara Eropa harus menyusun ulang strategi pertahanan secara mandiri.
Namun, banyak pengamat menilai langkah ini tidak mudah direalisasikan. Penarikan AS dari NATO memerlukan proses politik yang kompleks, termasuk persetujuan Kongres, dan berisiko melemahkan posisi global Amerika sendiri.
Sebagian pihak juga melihat pernyataan Trump sebagai strategi politik menjelang pemilu, dengan tujuan menarik dukungan dari pemilih yang merasa kebijakan luar negeri AS terlalu membebani negara.
Didirikan pada 1949 pasca Perang Dunia II, NATO awalnya bertujuan menahan pengaruh Uni Soviet di Eropa Timur. Prinsip utamanya, Pasal 5, menegaskan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Meski runtuhnya Uni Soviet mengakhiri Perang Dingin, NATO tidak bubar. Justru, aliansi ini meluas hingga mencakup negara-negara bekas blok Timur - langkah yang turut memicu ketegangan dengan Rusia.
Hingga kini, NATO tetap menjadi salah satu aliansi militer terkuat di dunia, dengan peran penting dalam menjaga keseimbangan kekuatan dan stabilitas global.
BERITA TERKAIT: