Konfirmasi resmi dari Teheran kurang dari 24 jam setelah serangan pertama menandai babak baru yang penuh ketidakpastian bagi Republik Islam tersebut.
Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi, menilai peristiwa ini bukan sekadar kehilangan figur simbolik, tetapi berpotensi menjadi titik balik perubahan rezim di Iran.
“Saya turut berduka cita atas wafatnya Ayatullah Ali Khamenei. Beliau adalah pemimpin spiritual bagi kalangan Syiah dan simbol perlawanan terhadap Israel dan Amerika. Ini kehilangan yang sangat besar,” ujar Hasibullah dalam wawancara di sebuah stasiun televisi, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 2 Maret 2026.
Menurut Hasibullah, kecepatan konfirmasi kematian Khamenei, kurang dari 24 jam setelah serangan, menjadi faktor yang sangat mengejutkan.
“Secara logika keamanan, pemimpin tertinggi sebuah negara berdaulat seperti Iran harusnya memiliki pengamanan paling ketat. Fakta bahwa ia dilumpuhkan dalam waktu sangat singkat menunjukkan adanya kelemahan serius dalam sistem perlindungan,” tegasnya.
Ia membandingkan peristiwa ini dengan tewasnya Hasan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, dalam konflik sebelumnya yang terjadi sekitar 10-12 hari setelah eskalasi serangan pada September 2024.
“Kali ini jauh lebih cepat. Ini mengindikasikan kombinasi teknologi pelacakan canggih dan kekuatan intelijen yang sangat efektif,” kata Hasibullah.
Ia juga menyoroti pola serangan yang sebelumnya menyasar tokoh-tokoh Hamas dan elite proksi Iran di kawasan, yang menurutnya memperlihatkan konsistensi strategi Israel dalam melumpuhkan figur kunci.
Fokus utama analisis Hasibullah adalah kemungkinan perubahan rezim. Ia memetakan dua skenario besar yang kini terbuka.
Skenario pertama adalah terjadinya pergantian rezim sebagaimana secara terbuka diharapkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.
Trump bahkan disebut mendorong rakyat Iran untuk turun ke jalan membentuk pemerintahan baru.
“Dengan wafatnya Khamenei, jembatan menuju kemungkinan perubahan rezim itu terbuka,” ujar Hasibullah.
Ia menambahkan, dalam perspektif Barat dan Israel, terdapat kepentingan strategis agar Iran kembali pada konfigurasi pra-Revolusi 1979, ketika Teheran menjadi mitra penting dalam arsitektur keamanan kawasan.
Namun skenario kedua justru berlawanan: rezim bertahan dan memperkeras perlawanan.
“Konstitusi Iran sudah mengatur mekanisme suksesi melalui Majelis Ahli. Secara sistem, negara tetap berjalan. Kematian Khamenei bisa menjadi momentum konsolidasi internal dan memperkuat narasi perlawanan terhadap ‘setan besar’ dan ‘setan kecil’,” jelasnya.
Hasibullah menilai peluang kedua skenario tersebut relatif berimbang. “
Saya melihat ini 50-50. Mekanisme politiknya kuat, tetapi jika pola serangan terhadap elite terus berlanjut, stabilitas rezim bisa benar-benar terganggu,” katanya.
Ia juga menggarisbawahi pernyataan Trump yang mengklaim mengetahui sosok calon pengganti Khamenei. Jika benar demikian, potensi serangan lanjutan terhadap figur suksesor sangat mungkin terjadi. Itu bisa menjadi faktor penentu arah perubahan rezim.
Terkait kemungkinan meredanya konflik setelah kematian Khamenei, Hasibullah justru melihat indikasi sebaliknya.
“Hingga sekitar 20 jam pasca-serangan pertama, intensitas serangan belum menunjukkan penurunan. Kedua belah pihak masih saling melancarkan serangan,” ujarnya.
Ia menyebut Iran masih mampu menyasar target di Tel Aviv dan sejumlah pangkalan militer di kawasan Teluk. Artinya, kapasitas militer Iran tidak serta-merta melemah meski kehilangan figur sentral.
Situasi ini, menurut Hasibullah, akan sangat menentukan arah politik Iran dalam beberapa hari ke depan. Apakah kematian Khamenei menjadi pintu masuk perubahan rezim yang selama ini diidamkan musuh-musuhnya, atau justru menjadi katalis konsolidasi kekuatan internal Republik Islam, masih menjadi tanda tanya besar.
“Semuanya akan sangat ditentukan oleh dinamika elite dalam beberapa hari ke depan,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: