Berbicara usai pertemuan di parlemen Rusia (Duma Negara), Wakil Perdana Menteri Aleksandr Novak, menegaskan bahwa pembahasan bantuan tersebut masih berada di tingkat kabinet dan sedang dikaji secara resmi melalui mekanisme kerja sama bilateral.
“Komisi antar pemerintah tentang kerja sama perdagangan dan ekonomi antara Rusia dan Kuba sedang menangani hal ini,” ujar Novak kepada wartawan, dikutip dari RT, Kamis 26 Februari 2026.
Pernyataan ini menjadi sinyal penting bahwa Moskow membuka peluang dukungan konkret bagi Havana.
Kuba saat ini mengalami salah satu krisis energi terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan ekonomi dari Amerika Serikat (AS) serta pembatasan terhadap pemasok minyak telah memangkas pasokan energi secara drastis.
Situasi diperparah dengan terhentinya ekspor minyak dari Venezuela yang selama ini menjadi sumber utama impor bahan bakar Kuba.
Akibat kelangkaan tersebut, pemerintah Kuba menerapkan berbagai langkah darurat. Perusahaan milik negara hanya beroperasi empat hari dalam sepekan, distribusi bahan bakar dibatasi, layanan transportasi antarpovinsi dikurangi, dan sejumlah fasilitas wisata ditutup sementara. Otoritas juga memperingatkan maskapai penerbangan bahwa pasokan bahan bakar avtur akan dihentikan selama satu bulan.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa strategi tekanan ekonomi terhadap Kuba dimaksudkan untuk memaksa pemerintah Havana membuat konsesi politik. Ia bahkan memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika tidak tercapai kesepakatan.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam kebijakan Washington terhadap Kuba dan menyebutnya sebagai bentuk “blokade” yang tidak dapat diterima. Moskow menegaskan solidaritasnya terhadap Havana di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.
BERITA TERKAIT: