Kantor berita
Tasnim, mengutip sumber yang mengetahui langsung proses tersebut, menyebutkan bahwa perundingan kemungkinan akan segera dimulai dan melibatkan pejabat senior dari kedua negara.
“Pembicaraan kemungkinan akan segera dimulai kembali, melibatkan pejabat senior dari kedua negara,” tulis
Tasnim News Agency, seperti dikutip pada Senin, 2 Februari 2026.
Meski demikian, waktu dan lokasi pertemuan belum ditetapkan. Perundingan disebut akan berlangsung pada level Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan Amerika Serikat Steve Witkoff.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari kantor Presiden Pezeshkian terkait kabar tersebut.
Langkah ini muncul di tengah situasi regional yang memanas, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai pergerakan kekuatan militer Amerika ke kawasan Timur Tengah.
Trump mengonfirmasi bahwa sebuah armada besar AS sedang menuju wilayah tersebut, seraya memperingatkan Iran agar bersedia berunding terkait program nuklirnya atau menghadapi kemungkinan aksi militer.
Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas diplomatik dilaporkan meningkat. Sejumlah negara kawasan, termasuk Turki, disebut turut melakukan upaya untuk meredakan ketegangan antara Iran dan AS.
Pada konferensi pers mingguan di Teheran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan bahwa negaranya tidak menerima tekanan dari Washington.
Sebagai catatan, Iran dan Amerika Serikat sebelumnya terlibat dalam perundingan nuklir tidak langsung pada Juni tahun lalu. Namun, pembicaraan tersebut terhenti setelah Israel melancarkan serangan ke Iran yang memicu perang selama 12 hari dan meningkatkan eskalasi secara tajam.
Usai konflik tersebut, Teheran menangguhkan perundingan dengan Washington dengan menuding AS bertanggung jawab atas serangan Israel.
BERITA TERKAIT: