Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala UNESCO Audrey Azoulay dalam kunjungannya ke Baghdad menjelang peringatan 20 tahun invasi AS ke negara itu.
Kepala UNESCO itu bertemu dengan Perdana Menteri Mohammed Shia al-Sudani. Ia kemudian mengunjungi museum nasional negara, yang situsnya banyak dijarah oleh AS setelah mereka menginvasi Irak.
"UNESCO sangat berkomitmen untuk membantu Irak memulihkan barang budaya dan artefak yang telah dijarah selama beberapa dekade terakhir," kata Azoulay yang berbicara kepada wartawan, pada Senin (6/3).
Berdasarkan laporan yang dimuat
VOA News, saat ini museum tersebut menyimpan lebih dari 17.000 artefak berusia ribuan tahun, yang akhirnya dikembalikan ke Irak, setelah puluhan tahun dicuri. Itu termasuk sebuah tablet tanah liat bersejarah, yang memuat sebagian teks Epic of Gilgamesh, atau puisi epik dari Mesopotamia kuno.
"Kita semua tahu apa yang telah dilalui Irak selama beberapa dekade terakhir. Dan kita juga tahu apa yang peradaban dunia ini lakukan kepada Irak," tambah Azoulay, yang mengaku akan mengunjungi situs warisan UNESCO selama turnya itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, setelah keamanan telah stabil di negara yang menyimpan enam Situs Warisan Dunia yang terdaftar di UNESCO itu, Irak terus melihat kebangkitan dari pemulihan situs-situsnya yang rusak, dengan dolar internasional banyak mengalir ke negaranya untuk memulihkan situs, seperti Masjid al-Nouri di Mosul.
BERITA TERKAIT: