Tuduhan dilakukan ketika Jihad Islam menggelar demonstrasi serentak di Jalur Gaza, Damaskus, dan Beirut, setelah gencatan senjata disepakati.
"Musuh masih menghindari komitmen yang dibuatnya untuk saudara-saudara kita di Mesir. Pemerintah musuh harus memikul tanggung jawab penuh untuk itu," kata pemimpin Jihad Islam, Ziad Al Nakhala pada Kamis (25/8), seperti dimuat
The National.
Israel mengatakan serangan udara yang diluncurkan pada 5 Agustus terhadap posisi Jihad Islam yang didukung Iran di Gaza adalah operasi pencegahan untuk mencegah serangan yang akan segera terjadi.
Sebagai tanggapan, Jihad Islam menembakkan lebih dari 1.000 roket, tetapi banyak di antaranya mengenai lahan pertanian atau dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
Kementerian Kesehatan mencatat 49 warga Palestina tewas, 17 di antaranya anak-anak, dan lebih dari 350 terluka, di Gaza.
Di Israel, pecahan peluru melukai tiga orang.
Jihad Islam mengatakan gencatan senjata termasuk komitmen Mesir untuk bekerja menuju pembebasan dua tahanan, Bassem Al Saadi, seorang tokoh senior di sayap politik kelompok itu, dan militan Khalil Awawdeh.
Tetapi pada Minggu (21/8), Mahkamah Agung Israel menolak banding untuk membebaskan Awawdeh dari tahanan dengan alasan tentara telah setuju untuk membekukan penahanan administratif sementara dia tinggal di rumah sakit.
BERITA TERKAIT: