Bajardo, sebuah kota kecil di pantai Liguria dengan kurang dari 350 orang, rela merogoh kocek sebesar 300 euro (sekitar 4,4 juta rupiah) kepada seorang pria bernama Renato Labolani untuk melakukan survei air dengan metode psikis pertanian.
Labolani mempraktikkan dowsing – sebuah metode untuk mendeteksi air tanah dengan menggunakan ranting bercabang, tongkat atau pendulum. Kebanyakan dowser percaya bahwa mereka mengambil getaran alami dari air di bawah tanah.
“Saya menggunakan pendulum yang memberi tahu saya segalanya: di mana air berada, berapa banyak di sana, seberapa dalam,†kata Labolani, yang memiliki pengalaman 30 tahun di lapangan kepada surat kabar Il Foglio, seperti dikutip dari
AFP, Rabu (24/8).
“Saya bertanya: berapa banyak (air) di daerah ini? Lima ratus liter, seribu, tiga ribu? Saya berjalan selama pendulum bergerak, dan kemudian bandul itu berhenti," ujarnya.
Walikota Remo Moraglia mengatakan kepada surat kabar yang sama bahwa dia percaya pada Labolani, sambil menyatakan kesiapannya untuk mengeluarkan dana pribadi jika warganya tidak menemukan jumlah air yang cukup.
“Dua dari lima mata air kami telah kering sejak Mei,†kata walikota, menambahkan bahwa Labolani telah menemukan air di kota terdekat Apricale di masa lalu dan telah menemukan dua sumber air di Bajardo.
"Insinyur akan mempelajari apakah sumur dapat digali di tempat yang ditunjukkan oleh dowser," tambahnya.
"Untuk saat ini, itu hanya survei," kata Moraglia.
"Ini seperti seseorang yang pergi ke dokter untuk diberitahu apakah dia baik-baik saja atau tidak," ujarnya.
Seperti bagian Eropa lainnya, Italia terus dilanda gelombang panas yang luar biasa musim panas ini, dengan wilayah Liguria mencatat periode panas terlama di bulan Juli.
BERITA TERKAIT: