Pengeluaran Belt and Road China di Rusia dan Sri Lanka Turun ke Nol untuk Pertama Kalinya

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 26 Juli 2022, 09:47 WIB
Pengeluaran Belt and Road China di Rusia dan Sri Lanka Turun ke Nol untuk Pertama Kalinya
royek Kota Pelabuhan Kolombo yang didanai China, digambarkan selama konstruksi pada Oktober 2015/Net
rmol news logo Investasi infrastruktur besar-besaran China dalam program Belt and Road (BRI) diharapkan dapat memandu periode baru perdagangan dan peningkatan ekonomi di Asia dan sekitarnya, meskipun banyak pihak yang skeptis bahwa itu adalah trik China untuk mengikat negara-negara dengan jebakan utang.

Studi baru oleh Green Finance & Development Center mengungkapkan fakta bahwa pembiayaan dan investasi Belt and Road China di Rusia, turun menjadi nol untuk pertama kalinya. Demikian juga di Sri Lanka maupun dan Mesir, tidak ada biaya  pengeluaran.

Pembiayaan dan investasi mencapai 28,4 miliar dolar AS dalam enam bulan pertama, dibandingkan dengan 29,4 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya, menurut pusat yang merupakan afiliasi dari Universitas Fudan tersebut.

"Angka paruh pertama 40 persen lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019," kata studi tersebut, seperti dikutip dari Business Standar,.

Sekitar 11,8 miliar dolar AS digunakan untuk investasi dan 16,5 miliar dolar AS digunakan untuk kontrak konstruksi yang sebagian dibiayai oleh pinjaman China.

Rusia telah menjadi salah satu penerima manfaat utama dari pengeluaran pembangunan China melalui BRI.

Christoph Nedopil Wang, direktur pusat tersebut, mengatakan ancaman sanksi yang dipimpin barat dapat menghalangi China untuk berinvestasi di Rusia. Sementara memperlambat investasinya di Rusia, China memperdalam keterlibatannya dengan Timur Tengah.

Arab Saudi adalah penerima utama investasi China, sementara tidak ada proyek batu bara yang menerima dana di semester pertama, menurut penelitian tersebut.

Program sabuk dan jalan China mendapat kecaman, dan selama beberapa tahun terakhir, AS menuduh China menggunakan "diplomasi utang" untuk membuat negara-negara berkembang lebih bergantung pada Beijing. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA