“Ini adalah skenario hipotetis untuk saat ini, tetapi jika tindakan militer bergerak lebih jauh ke bagian barat daya Ukraina dan menuju Odessa, maka tentu saja kami sangat khawatir,†kata Perdana Menteri Moldova Natalia Gavrilița seperti dikutip
The Hill.
Pasukan Rusia ingin menyerang Donbas timur untuk menguasai jantung industri Ukraina dan mengamankan jembatan darat ke Semenanjung Krimea. Namun itu juga dilakukan agar Rusia dapat mengakses Transnistria yang telah memisahkan diri dari Moldova dan memihak Rusia setelah mendeklarasikan kemerdekaanya pada tahun 1992.
“Kami sangat khawatir, terutama mengingat pasukan berada di wilayah wilayah Transnistria yang memisahkan diri. Kami melakukan segala hal untuk dapat menjaga perdamaian dan stabilitas serta memastikan bahwa pertempuran tidak meningkat,†kata Gavrilița.
Gavrilița mengungkapkan bahwa agresi Putin telah menciptakan situasi sulit bagi negara-negara Eropa lainnya, bukan hanya Moldova.
“Jika suatu negara dapat memulai perang aneksasi tanpa memperhatikan hukum internasional, maka dalam hal ini, tidak ada yang aman,†pungkasnya.
Moldova adalah negara kecil dengan populasi sekitar 2,5 juta orang. Negara ini pernah menjadi bagian dari Uni Soviet sampai tahun 1991, hingga memisahkan diri dari blok komunis yang runtuh.
Selama perang di Ukraina, Moldova telah menampung sekitar setengah juta pengungsi Ukraina, sekaligus menampung lebih banyak pengungsi per kapita dari berbagai negara.
Ketakutan Moldova akan invasi Rusia meningkat pada bulan Maret, ketika sebuah foto yang bocor menunjukkan sekutu Putin dan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko menunjuk ke arah Moldova di peta pertempuran.
BERITA TERKAIT: