Di bawah pemerintahan Presiden Anatoly Bibilov, Ossetia Selatan menggelar referendum pada 13 Mei, hanya beberapa hari setelah kalah dari Gagloyev.
Kantor berita negara lokal,
RES, menyebut keputusan tersebut diambil lantaran referendum dilakukan sepihak, serta mempengaruhi hak dan kepentingan.
Rusia juga telah membantah keterlibatannya dalam referendum tersebut. Pada Mei, jurubicara Kremlin Dimitry Peskov pihaknya tidak berencana untuk mencaplok Ossetia Selatan ke dalam Federasi Rusia.
Sementara itu, Bibilov telah menjadikan masalah referendum sebagai bagian sentral dari kampanye pemilihannya. Di sisi lain, Gagloyev telah mengaku skeptis tentang melakukannya tanpa persetujuan dari Moskow.
Hukum konstitusional Ossetia Selatan menjamin hak warga negara untuk mengadakan referendum.
Di dalam dekrit yang ditandatangani Gagloyev, dikatakan konsultasi akan diadakan dengan Moskow untuk mengintegrasikan Ossetia Selatan lebih lanjut ke Rusia.
"Presiden sepenuhnya (mendukung) inisiatif warga Republik Ossetia Selatan tentang integrasi lebih lanjut Ossetia Selatan dan Rusia," demikian bunyi dekrit itu.
Menurut dekrit tersebut, tim delegasi yang dipimpin Gagloyev akan dikirim ke Rusia, termasuk isinya kepala Komisi Pemilihan Umum dan Mahkamah Agung, serta menteri luar negeri dan ketua parlemen.
BERITA TERKAIT: