Dalam sebuah pemberitahuan dalam bahasa China pada Minggu (3/4), Kementerian Luar Negeri China dan kedutaan besarnya di Kolombo mengatakan, situasi ekonomi di Sri Lanka kini semakin kritis dengan meningkatnya rasa ketidakpastian di masyarakat.
“Tolong perhatikan dengan seksama situasi keamanan setempat, serta hindari untuk ikut serta atau mengamati demonstrasi, protes atau kegiatan lainnya,†ujar peringatan tersebut, dimuat dari
South Morning China Post.
Pemberitahuan itu dikeluarkan setelah pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di dekat kediaman Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa pada Kamis lalu. Unjuk rasa itu menyebabkan hampir 50 orang, termasuk beberapa wartawan, terluka dan beberapa kendaraan polisi terbakar.
Setelah itu, pemerintahan segera mengumumkan keadaan darurat dan memberlakukan jam malam nasional selama 36 jam pada Sabtu malam. Kemudian platform media sosial, seperti Facebook, WhatsApp, Twitter, dan YouTube, diblokir pada Minggu.
Kantor kepresidenan menyalahkan “ekstremis partai oposisi†atas kekerasan tersebut.
Negara kepulauan itu kini dilanda krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya ketika pemerintah yang sarat utang kehabisan cadangan mata uang asing, menyusul penurunan pendapatan pariwisata yang disebabkan oleh pandemi.
Untuk menyelamatkan ekonomi negara, Sri Lanka sedang dalam proses pembicaraan dengan lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) serta tetangganya seperti China dan India untuk program pinjaman potensial.
Bulan lalu, India memperpanjang pinjaman lunak jangka pendek senilai 1 miliar dolar AS ke Sri Lanka. Duta Besar China, Qi Zhenhong juga mengatakan bahwa Beijing sedang mempertimbangkan beri dukungan keuangan ke negara itu, termasuk pinjaman 1 miliar dolar AS dan lini kredit 1,5 miliar dolar AS untuk membeli barang dari China.
BERITA TERKAIT: