Ketika meluncurkan operasi tersebut pada 24 Februari, Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri menyebut pihaknya berusaha melakukan demiliterisasi dan denazifikasi di Ukraina.
Di samping itu, operasi tersebut juga dikatakan sebagai bagian dari upaya melindungi rakyat Donetsk dan Luhansk setelah memisahkan diri dari Ukraina.
Setelah lebih dari satu bulan operasi dilakukan, belum ada sinyal damai yang dirasakan, termasuk dalam proses dialog yang beberapa kali berlangsung.
Namun baru-baru ini, tepatnya Selasa (29/3), Rusia dan Ukraina bertemu di Istanbul, Turki untuk mengupayakan proses perdamaian.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva sendiri menilai dialog tersebut merupakan tren yang baik, khususnya bagi Rusia untuk mencapai tujuannya.
"Jika kami mencapai tujuan kami melalui dialog ini, itu bagus. (Tapi) jika kami tidak mencapai tujuan ini, maka kami akan melakukan operasi militer," kata sang dubes dalam diskusi bersama CEO
RMOL Network, Teguh Santosa di Kopi Timur, Rabu (30/3).
Dalam diskusi itu, Dubes Vorobieva mengatakan, Rusia ingin Ukraina setidaknya netral. Meski Moskow berharap Ukraina bisa lebih bersahabat.
Di samping itu, Ukraina tidak menjadi ancaman bagi Rusia dengan tidak membentuk pasukan nuklir dan tidak mengembangkan senjata pemusnah massal.
"Kenapa saya mengatakan ini? Karena ada informasi baru-baru ini, dan telah dikonfirmasi oleh Amerika sendiri, bahwa mereka (Amerika Serikat) membangun lab biologi di Ukraina. Mereka mengembangkan senjata biologis, dan senjata biologi adalah senjata pemusnah massal," jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, ia mengatakan, Rusia akan membawa masalah tersebut ke Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) karena hal itu telah melanggar hukum internasional.
"Maksud saya adalah, kami tidak ingin merasa terancam melalui Ukraina. Tentu kami tidak diancam oleh Ukraina, tapi (kami) diancam melalui Ukraina," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: