Begitu yang dikatakan oleh Komisaris Eksekutif Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS), Sergei Lebedev dengan menyebut ada "bandit" yang menjadi dalang kerusuhan.
"Jelas hari ini bahwa unsur-unsur perusak, para bandit, mempersiapkan unjuk rasa massal terlebih dulu untuk mengacaukan negara dan mendapat dukungan asing," ujarnya, seperti dikutip
Sputnik, Minggu (9/1).
Ia mengatakan, para provokator, dalang, dan sponsor dari kerusuhan tersebut bersembunyi dalam topeng tindakan kriminal untuk melancarkan "revolusi warna" di Kazakhstan.
Meski begitu, Lebedev mengatakan, otoritas Kazakhstan berhasil memulihkan ketertiban dan stabilitas dengan tepat waktu. Ia juga berharap dapat segera menggelar pertemuan CIS di Kazakhstan.
Tahun ini, Kazakhstan memimpin CIS, yang meliputi Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan sendiri, Kirgistan, Moldova, Rusia, Tajikistan, dan Uzbekistan.
Kazakhstan telah diguncang oleh aksi protes massal yang dipicu kenaikan harga gas LPG. Protes diwarnai dengan bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa yang membuat puluhan orang meninggal dunia.
Dugaan adanya interfensi asing sudah disuarakan oleh Presiden Kassym-Jomart Tokayev dalam pitonya pada 5 Januari.
BERITA TERKAIT: