Empat tersangka itu pada Selasa (28/12) diarak dan dipertontonkan di jalan-jalan di kota metropolitan Jingxi di daerah Guangxi, yang dekat dengan perbatasan China dan Vietnam. Mereka mengenakan hazmat sambil membawa plakat yang memuat nama dan foto mereka.
Para tersangka dituduh mengangkut migran ilegal di tengah pandemi, di saat pemerintah China menetapkan pembatasan perjalanan untuk pencegahan penyebaran Covid-19.
Sejak 2010, China melarang mempermalukan tersangka kejahatan di depan umum, setelah bertahun-tahun para aktivis hak asasi manusia menggemakan kampanyenya.
Mempermalukan publik adalah bagian dari tindakan disipliner yang diperkenalkan oleh otoritas.
Hukuman sosial yang diberikan kepada tersangka disebut-sebut sebagai "peringatan nyata" kepada masyarakat umum, agar tidak ada yang mengulang untuk membuat pelanggaran yang sama.
Namun begitu, hukuman itu menyebabkan reaksi. Pengguna media sosial langsung melemparkan kritikan dan kecaman atas sanksi yang diberikan kepada empat terdakwa.
Tersangka lain yang dituduh melakukan penyelundupan gelap dan perdagangan manusia juga telah diarak dalam beberapa bulan terakhir, berdasarkan penelitian di situs web otoritas Jingxi.
Jingxi berada "di bawah tekanan luar biasa" untuk menghentikan penyebaran virus corona. Namun, sanksi yang diberikan kepada empat orang terduga dipandang sebagai "melanggar semangat supremasi hukum dan tidak dapat dibiarkan terjadi lagi," menurut Beijing News yang berafiliasi dengan Partai Komunis China, mengatakan pada Rabu (29/12).
BERITA TERKAIT: