Melalui kesepakatan yang ditandatangani Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan (MBZ) dan Macron tersebut, UEA akan mendapatkan 80 jet tempur Rafale dan 12 buah helikopter militer dari Prancis.
Penjualan luar negeri terbesar dari pesawat tempur Prancis itu disegel ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron memulai perjalanan dua hari ke Teluk, di mana ia juga akan mengunjungi Qatar dan Arab Saudi.
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly mengatakan bahwa kontrak antara dua negara tersebut adalah sebuah "sejarah".
Sementara Kepresidenan Prancis dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa, “Kontrak ini memperkuat kemitraan strategis yang lebih kuat dari sebelumnya dan secara langsung berkontribusi pada stabilitas regional," seperti dikutip dari
Al-Arabiya, Sabtu (4/12).
Ini adalah pembelian massal terbesar Rafale buatan Dassault, selain oleh tentara Prancis sendiri. Pembelian skala besar ini terjadi setelah kesepakatan di Yunani, Mesir, dan Kroasia, tahun ini.
Selain Rafale, Abu Dhabi juga memesan 12 helikopter Caracal. Ini adalah nama kode Prancis untuk H225M, versi militer multiperan dari Super Puma.
Negosiasi on-off untuk jet tempur Rafale memakan waktu lebih dari satu dekade dengan Abu Dhabi secara terbuka menolak tawaran Prancis untuk memasok 60 jet Rafale pada tahun 2011 sebagai “tidak kompetitif dan tidak dapat dijalankan.†Abu Dhabi sudah memiliki pesawat tempur Mirage 2000 buatan Prancis.
Sumber-sumber pertahanan mengatakan Rafale akan menggantikan armada Mirage 2000 tetapi tidak mungkin menggantikan F-35 buatan Amerika karena UEA terus melindungi keamanannya dengan dua pemasok utama, Prancis dan Amerika Serikat.
BERITA TERKAIT: