Demikian yang diungkap oleh Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin setelah melakukan pertemuan dengan mitranya dari Korea Selatan, Suh Wook, di Seoul pada Kamis (2/12).
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Angkatan Darat AS Mark Milley. Itu adalah dialog militer tahunan pertama antara AS dan Korea Selatan di bawah pemerintahan Joe Biden, dan terakhir di bawah pemerintahan Moon Jaein.
Dikutip dari
Reuters, Suh mengatakan, lingkungan keamanan yang berubah mendorong AS dan Korea Selatan untuk setuju memperbarui perencanaan operasional lama untuk potensi konflik dengan Korea Utara, serta meninjau komando militer gabungan mereka.
Untuk itu, Suh menyebut kedua pihak membuat kemajuan dalam memenuhi syarat untuk transfer OPCON (kontrol operasional) ke Korea Selatan.
OPCON sendiri merupakan kewenangan yang dapat diberikan oleh AS kepada Korea Selatan untuk dapat memerintah pasukannya yang berada di negara tersebut ketika terjadi perang.
AS menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan sebagai warisan Perang Korea 1950-1953, yang berakhir dengan gencatan senjata dan bukan perjanjian damai.
"Amerika Serikat telah berjanji untuk mempertahankan tingkat pasukan AS saat ini di Korea Selatan," tambah Suh.
Pekan ini, Pentagon merilis tinjauan postur global yang menyerukan kerjasama tambahan dengan sekutu dan mitra untuk mencegah potensi agresi militer China dan ancaman dari Korea Utara, termasuk keputusan untuk secara permanen menempatkan skuadron helikopter serang dan markas divisi artileri di Korea Selatan.
Di sisi lain, Austin mengatakan, AS terus meminta Korea Utara untuk terlibat dialog dan diplomasi sebagai pendekatan terbaik.
BERITA TERKAIT: