Biden yang sering mengisyaratkan sikapnya yang pro terhadap kemerdekaan Taiwan, membuat kejutan saat berbicara dengan Presiden Xi Jinping pada pertemuan virtual Senin (14/11) waktu Washington, di mana ia jelas-jelas menegaskan bahwa ia mengakui kebijakan 'Satu China' dan tidak mendukung kemerdekaan Taiwan.
Namun, hanya selang satu hari setelahnya, dalam penampilan publik pertamanya pada Selasa (15/12), ia membuat pernyataan ambigu terkait masalah Taiwan. Ia mengatakan bahwa Taiwan bisa membuat keputusannya sendiri, dan bahwa pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu independen.
"Kami mendorong mereka untuk melakukan persis apa yang diminta oleh Undang-Undang Taiwan. Itu yang sedang kami lakukan. Biarkan mereka (Taiwan) mengambil keputusan," kata Biden.
Tak lama ia mengklarifikasi pernyataannya itu. “Saya mengatakan bahwa 'mereka' (Taiwan) harus memutuskan, bukan 'kami'. Kami tidak mendorong kemerdekaan,†ujarnya.
Pernyataan ambigu Biden tersebut memicu interpretasi di media Taiwan.
Menanggapi itu, para ahli di Beijing mengatakan bahwa China harus sangat waspada tentang ketidakpastian yang tertanam dalam berbagai pernyataan AS yang kontradiktif, dan bersiap untuk menanggapi situasi yang tidak terduga dan untuk menyelesaikan permasalahan Taiwan dengan tegas bila diperlukan.
“Isi pertemuan Xi-Biden terkait Taiwan cukup jelas. Pemerintah AS telah lama menegaskan kembali posisinya bahwa mereka tidak mendukung pemisahan diri Taiwan. Kami memperingatkan otoritas DPP dan separatis bahwa mereka tidak akan pernah berhasil mencari pemisahan diri oleh kekuatan eksternal," kata Zhu Fenglian, juru bicara Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara, seperti dikutip dari
Global Times, Kamis (17/11).
"Kami akan mengambil tindakan tegas terhadap provokasi, paksaan atau bahkan melintasi garis merah," kata Zhu.
Wang Jianmin, pakar lintas selat senior di Universitas Normal Minnan memahami intepretasi media Taiwan soal pernyataan Biden yang membingungkan.
"Adalah normal bagi media Taiwan untuk menafsirkan dan bahkan salah menafsirkan pernyataan ini untuk kepentingan mereka," kata Wang.
"Tidak peduli apa sikap mereka, itu tidak mengubah fakta bahwa Taiwan bukan negara berdaulat dan tidak memiliki status berdaulat," lanjutnya.
Beberapa ahli menunjukkan bahwa pernyataan ambigu Biden adalah sinyal berbahaya dan mencerminkan kelanjutan strategi AS menggunakan Taiwan untuk menahan China.
"Tidak perlu menganalisis arti kata demi kata-nya Biden," kata Lu Xiang, seorang peneliti di Chinese Academy of Social Sciences.
"Diketahui bahwa Biden tidak pandai berbicara. Sejak menjabat, dia telah mengucapkan segala macam kata dan ekspresi aneh. Pernyataan lain yang membingungkan dan tidak jelas tidak mengejutkan," kata pakar itu.
"Yang perlu diperhatikan bukanlah apa yang dikatakan Biden, tetapi tindakan apa yang akan diambil AS," ujarnya.
AS telah mengirim pesawat militer ke pulau itu dua kali pada tahun 2021, yang merupakan provokasi serius yang telah dilawan oleh China.
"Apakah AS akan membuat langkah lebih lanjut untuk meningkatkan ketegangan, perlu diawasi dengan ketat," kata Lu.
Lebih jauh, Wang Dong, seorang ahli hubungan China-AS di Universitas Peking mengatakan bahwa Biden berulang kali menunjukkan sikap 'bermuka dua' kepada China.
“Meskipun Biden telah memutar balik beberapa pendekatan yang lebih agresif dari era Trump sejak dia menjabat, dia telah berulang kali menunjukkan sikap bermuka dua dan menguji garis bawah China,†kata Wang.
BERITA TERKAIT: