Terbaru, penjaga perbatasan Lithuania telah menolak masuk lebih dari 180 migran ilegal dari negara-negara Asia dan Afrika. Penjaga mendesak mereka untuk berbalik arah, kembali ke Belarus.
Setiap harinya migran yang datang terus bertambah. Layanan Penjaga Perbatasan Kementerian Dalam Negeri Lithuania dalam sebuah pernyataan pada Jumat (29/10) mengatakan, jumlah itu menjadi yang jumlah harian yang tertinggi sejak 4 Agustus lalu.
"Sebanyak 186 migran ilegal mencoba memasuki beberapa distrik perbatasan Lituania, jumlah tertinggi sejak 4 Agustus. Para pelanggar dipaksa kembali ke Belarus," bunyi pernyataan itu, seperti dikutip dari
AFP.
Menghindari komentar negatif yang selama ini sering digemakan terkait pelanggaran HAM, layanan perbatasan menekankan bahwa selama berjaga di perbatasan, para penjaga tidak menggunakan peralatan dan senjata khusus. Juga tidak ada perlakuan kekerasan.
Para migran yang bersikeras tidak ingin berputar arah, tetap bertahan di garis perbatasan, menambah kepadatan populasi di garis perbatasan yang selama ini mengundang kekhawatiran aparat.
Lithuania telah dibuat repot oleh banyaknya migran ilegal yang memaksa masuk ke wilayah itu. Para migran ingin mencapai Eropa dan mengambil rute Belarusia. Hal ini memicu pertikaian di antara Lithuania-Belarusia. Masing-masing mengklaim bahwa krisis diciptakan oleh kebijakan kedua pihak dan harus ada yang bertanggung jawab atas persoalan ini.
Lebih dari 4.000 migran ilegal telah ditahan di perbatasan Lituania-Belarusia sejak awal tahun, 50 kali lebih banyak dari tahun 2020.
Lithuania meyakini, krisis migrasi ini dipicu oleh Minsk dan telah mencelanya sebagai serangan hibrida dan juga sebagai pembalasan atas kebijakannya mendukung oposisi Belarusia.
Hubungan Lithuania dan Belarusia terus menegang terkait beberapa persoalan, dan semakin memanas oleh masalah krisis migran.
BERITA TERKAIT: