Terkait kejadian bom bunuh diri di Bandara Internasional Hamid Karzai yang menewaskan lebih dari 175 orang termasuk 13 belasan pasukan AS, Ketua Program Studi Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta, Faisal Nurdin Idris, mengatakan bahwa ada simbol-simbol yang tersampaikan dalam peristiwa itu, seperti pemilihan lokasi pengeboman.
Peristiwa itu sendiri memiliki tiga pesan penting. Pertama, menurutnya, motivasi dari teroris itu telah tercapai, yang dengan sengaja menciptakan atmosfir ketakutan, kekacauan, iklim panik, kepada semua orang, baik di Afghanistan maupun dunia luar bahwa bandara tesebut tidak aman.
"Padahal, bandara tersebut sangat sentral utk misi evakuasi bagi mereka yang ingin keluar dari Afghanistan. Teroris mengirimkan pesan simbolisnya yaitu bandara tidak aman," ujar Faisal kepada Redaksi
Kantor Berita Politik RMOL.
Peristiwa itu juga memperlihatkan ketidakmampuan Amerika untuk mencegah kekerasan di Afghanistan di tengah Amerika mengejar batas waktu penarikan penuh pasukannya dari Afghanistan.
Yang menarik adalah poin ketiga, di mana sang dosen mengatakan bahwa peristiwa ini telah menciptakan saling curiga antara Amerika dan Taliban sebagai aktor strategis saat ini di Afghanistan, termasuk juga saling curiga antara kelompok dan masyarakat yang terpecah-belah.
Sebaliknya, peristiwa bom ini mungkin akan menciptakan pemandangan baru bahkan tidak terduga, bahwa musuh bisa menjadi mitra
Pasukan Amerika langsung menerjunkan militernya untuk mengamankan situasi setelah ledakan terjadi. Beberapa jam kemudian, ISIS mengumumkan bahwa mereka bertanggung jawab atas ledakan tersebut yang membuat Taliban segera mengambil langkah pengamanan terutama setelah diketahui puluhan anggotanya juga menjadi korban.
Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Jenderal Kenneth McKenzie mengatakan, bahwa pihak AS telah berbagi informasi intelijen dengan Taliban, mencatat bahwa kedua pihak memiliki tujuan yang sama
"Bisa jadi juga kejadian bom itu mungkin akan meningkatkan koordinasi Amerika dan Taliban," ujar Faisal.
Menurutnya, ilmuan melihat aspek simbolis dari pemilihan target bom yang sarat dengan simbolisme.
"Di sinilah mengapa bandara itu dipilih untuk melancarkan serangan bunuh diri yang dilakukan mungkin bukan oleh individu atau kelompok yang gila, tetapi justru aktor rasional yang memiliki motivasi melakukan serangan teroris tersebut," terang Faisal.
BERITA TERKAIT: