Rencana itu diungkap oleh Letnan Angkatan Luar Angkasa AS Kolonel Jack Walker, seperti dimuat
Sky News pada Sabtu (17/7).
Ia mengatakan, pangkalan itu akan menggunakan teknologi radar yang dapat mengidentifikasi objek bahkan seukuran bola hingga jarak 22 ribu mil. Di sana juga akan ada fasilitas untuk mengategorikan puing-puing yang tidak terlalu berbahaya hingga berbahaya.
Pangkalan yang disebut Deep Space Advanced Radar Capability (DARC) itu akan mencakup area 1 kilometer persegi. Di dalamnya akan ada empat hingga enam parabola berukuran sekitar 15 meter yang akan mengirimkan energi ke luar angkasa.
Sinyal energi akan kembali ke Bumi dan direkam oleh 10 parabola berukuran sama di lokasi terpisah yang dirancang untuk menerima data.
"Anda memiliki antena pengirim dan antena penerima," ucap Walker.
Dengan fasilitas tersebut, juga akan ada sistem peringatan dini untuk rudal balistik yang masuk.
Menurut Walker, AS berencana membangun tiga pangkalan radar di seluruh dunia, salah satunya kemungkinan berada di Skotlandia atau Inggris bagian selatan. Sementara dua situs lainnya akan berada di Texas, AS dan Australia.
Pangkalan radar pertama diharapkan sudah dapat beroperasi pada 2025.
"Ini perlu karena kami ingin melacak target yang dapat mengancam sistem kami yang berada di orbit... Bisa dari China, bisa dari Rusia, bisa jadi anti-satelit atau bisa juga hanya puing-puing dari badan roket," jelas Walker.
DARC juga menjadi agenda pembahasan dalam kunjungan Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace ke Pusat Sistem Luar Angkasa dan Rudal AS di Los Angeles.
"Saat ini, ada negara-negara seperti Rusia dan China yang sedang melakukan sesuatu, mengembangkan sistem yang menjadi ancaman bagi satelit yang kita andalkan dalam kehidupan kita sehari-hari," terang Walker.
Inggris sendiri telah menjadi tuan rumah sejumlah pangkalan mata-mata dalam kemitraan dengan AS seperti RAF Fylingdales di Snod Hill di North York Moors.
BERITA TERKAIT: