Seorang sumber mengatakan, langkah tersebut bertujuan untuk mengurangi tekanan pada anak-anak sekolah dan meningkatkan angka kelahiran dengan menurunkan biaya hidup keluarga.
Aturan baru akan diumumkan paling cepat pada pekan depan dan berlaku mulai Juli, seperti dimuat
Channel News Asia.
Salah satu aturan termasuk larangan bimbingan belajar online dan offline selama liburan musim panas dan musim dingin di Beijing, Shanghai, dan kota-kota besar lainnya.
"Aturan baru akan lebih ketat dari yang diharapkan. Industri harus bersiap untuk yang terburuk," ujar sumber lainnya.
Dengan aturan baru, perusahaan bimbingan belajar kemungkinan akan kehilangan sebanyak 70 hingga 80 persen pendapatan tahunan mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri bimbingan belajar berkembang pesat untuk siswa sekolah dari taman kanak-kanak hingga kelas 12 atau K-12.
Lebih dari 75 persen siswa K-12 di China menghadiri kelas bimbingan belajar setelah sekolah pada 2016.
Pekan lalu, Presiden Xi Jinping mengatakan sekolah harus bertanggung jawab atas pembelajaran siswa, bukan perusahaan bimbingan belajar.
"Departemen pendidikan harus mengoreksi fenomena ini," kata Xi.
Saham perusahaan les privat China yang terdaftar di New York, TAL Education Group, New Oriental Education & Technology Group, dan Gaotu Techedu Inc masing-masing ditutup turun 12,3 persen, 17 persen, dan 12,5 persen pada Rabu (16/6).
BERITA TERKAIT: