Sebuah kesepakatan bernilai 15 miliar rupee atau setara dengan Rp 2,9 triliun (Rp 195/rupee) telah ditandatangani oleh pemerintah India dan Biological-E pada Kamis (3/6).
Kementerian Kesehatan mengatakan, kesepakatan tersebut merupakan pesanan pertama untuk vaksin yang saat ini masih menjalani uji klinis fase 3 dan belum mendapatkan izin penggunaan darurat.
Secara terpisah, Biological E juga memiliki kesepakatan terpisah untuk memproduksi sekitar 600 juta dosis vaksin Covid-19 Johnson & Johnson setiap tahunnya.
Pada Selasa (1/6), Biological E menandatangani perjanjian lisensi dengan perusahaan Kanada, Providence Therapeutics Holdings untuk memproduksi vaksin Covid-19 dengan metode mRNA. Biological-E akan menjalankan uji klinis vaksin Providence di India dan meminta persetujuan penggunaan darurat.
Saat ini tren penurunan kasus dari puncak gelombang kedua Covid-19 di India mulai terjadi. Namun pakar kesehatan menegaskan, vaksinasi massal perlu dilakukan terhadap 1,3 miliar penduduk India sebelum munculnya gelombang berikutnya.
Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi juga telah menuai kritik karena peluncuran vaksin yang lambat. Padahal India sendiri adalah salah satu produsen dosis terbesar di dunia.