Seperti ribuan orang lainnya di Gaza, Umm Jihad Ghabayin, ibu rumah tangga 34 tahun, melarikan diri bersama anak-anaknya dari pemboman kedua kubu =Israel dan Hamas- tanpa sempat mengambil apa pun hartanya, apalagi masker wajah, benda kecil yang justru sangat dibutuhkan di tengah serangan Covid-19 yang mengamuk di Palestina.
"Tentu saja saya takut tertular virus corona, tetapi itu akan lebih mudah (untuk diatasi) daripada rudal Israel," kata ibu dari enam anak itu.
"Rudal membunuh kita," salah satu anaknya menambahkan, berusia delapan tahun, dengan kakinya yang kotor karena debu.
Ghabayin meninggalkan rumah, melarikan diri mencari tempat perlindungan, dan tiba di gedung sekolah yang didukung PBB di mana dia merasa lebih aman. Dia bersatu bersama para pengungsi lainnya yang sesak, dengan resiko tertular virus corona.
"Sejak kami tiba pada hari Jumat, kami belum mandi sekali pun," kata Ghabayin. "Airnya mati berjam-jam, dan total kebersihannya kurang."
Menanggapi tembakan roket dari Gaza, serangan Israel telah menghantam kantong Palestina yang padat sejak 10 Mei, menewaskan sedikitnya 219 orang, menurut kementerian kesehatan Gaza.
Ketika seluruh blok menara runtuh, menjadi puing-puing yang berasap oleh bom, bahaya langsung dari serangan udara yang menghancurkan telah menggantikan risiko Covid-19 yang kurang jelas - tetapi masih mematikan - bagi warga Gaza.
"Tentu saja saya takut tertular virus corona, tetapi itu akan lebih mudah (untuk diat
Konflik Israel-Hamas telah melenyapkan infrastruktur utama termasuk air dan listrik di Gaza, daerah kantong miskin dan padat yang menampung sekitar dua juta warga Palestina.
Di gedung sekolah yang kini berubah menjadi tempat penampungan, dan di jalan-jalan Gaza yang dilanda bom, hanya sedikit yang berpikir untuk memakai masker.
"Serangan Israel yang berkelanjutan merusak upaya kami melawan virus corona," kata Ashraf al-Qudra, juru bicara kementerian kesehatan Gaza, seperti dikutip dari AFP, Kamis (20/5).
Gaza, di bawah blokade Israel sejak 2007, mencatat beberapa kasus Covid-19 di bulan-bulan awal pandemi.
Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada pekan lalu, lebih dari 100.000 orang telah dites positif terkena virus korona di Gaza, di antaranya lebih dari 930 telah meninggal.
Adnan Abou Hasna, juru bicara badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan bahwa sekolah yang diubah menjadi tempat penampungan bagi lebih dari 40.000 pengungsi Gaza bisa menjadi pusat ledakan virus korona.
Sementara tempat cuci tangan dan fasilitas MCK lainnya telah disiapkan, dia mengakui langkah-langkah tersebut tidak memadai. Terutama karena sulitnya air dan listrik terlebih di saat-saat seperti ini.
Konflik juga menghambat peluncuran vaksin, dengan warga Gaza mengandalkan terutama pada pengadaan dari Otoritas Palestina yang berbasis di Tepi Barat, yang harus mengirimkan stok melalui wilayah Israel.
BERITA TERKAIT: