Menurut sumber diplomatik yang dikutip
Sputnik pada Rabu (19/5), draf resolusi itu dibuat sebagai hasil pembicaraan antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Raja Yordania Abdullah II.
"Itu ditulis agar bisa diterima semua orang," tambah sumber itu.
Paris mengatakan ketiga negara sepakat pada tiga elemen sederhana, yaitu pertempuran harus dihentikan, waktunya telah tiba untuk gencatan senjata, dan DK PBB harus menangani masalah tersebut.
Menurut
The Times of Israel, draf tersebut juga menggarisbawahi pentingnya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Di dalamnya tidak disebutkan terkait serangan Hamas atau pun Israel. Namun draf tersebut dapat diubah dalam beberapa hari ke depan.
"Strateginya adalah untuk meyakinkan semua pihak, jadi teks harus sangat fokus dan dapat diterima oleh semua orang," ujar seorang sumber lainnya.
Belum diketahui kapan draf tersebut akan dibawa ke DK PBB.
Pekan lalu, DK PBB telah menggelar dua sesi pertemuan tertutup dan satu sesi pertemuan terbuka untuk membahas isu Palestina dan Israel. Namun ketiga pertemuan tersebut tidak menghasilkan pernyataan apapun dengan adanya veto dari Amerika Serikat.
BERITA TERKAIT: