Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Selasa (27/4), pihak junta Myanmar menerima saran-saran konstruktif yang diberikan selama KTT ASEAN di Jakarta pada 24 April lalu.
"Saran tersebut akan dipertimbangkan secara positif jika melayani kepentingan negara dan didasarkan pada tujuan dan prinsip yang diabadikan di ASEAN," ujar junta, seperti dikutip
Channel News Asia.
Dalam pertemuan yang dihadiri oleh pemimpin junta Jenderal Min Aung Hlaing itu, para pemimpin ASEAN mencapai lima poin konsensus untuk mengakhiri kekerasan di Myanmar.
Poin pertama merupakan penghentian segera kekerasan di Myanmar, dan semua pihak harus menahan diri.
Kedua, para pemimpin ASEAN sepakat untuk memulai dialog konstruktif antara semua pihak terkait guna mencari solusi damai demi kepentingan rakyat Myanmar.
Ketiga, utusan khusus Ketua ASEAN akan memfasilitasi mediasi proses dialog, dengan bantuan Sekretaris Jenderal ASEAN.
Keempat, ASEAN akan memberikan bantuan kemanusiaan melalui ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on disaster management (AHA Centre).
Kelima, utusan khusus dan delegasi akan mengunjungi Myanmar untuk bertemu dengan semua pihak terkait.
Pertemuan sendiri secara khusus digelar untuk membahas situasi di Myanmar dan dipimpin oleh Sultan Brunei Hassanal Bolkiah sebagai Ketua ASEAN.
Selain Sultan Hassanal Bolkiah, pertemuan itu dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Perdana Menteri (PM) Malaysia Muhyiddin Yassin, PM Singapura Lee Hsien Loong, PM Vietnam Pham Minh Chinh, dan PM Kamboja Hun Sen.
Sementara itu, Filipina diwakili oleh Menteri Luar Negeri Teodoro Locsin, Thailand diwakili oleh Menteri Luar Negeri Don Pramudwinai, dan Laos diwakili oleh Menteri Luar Negeri Saleumxay Kommasith.
BERITA TERKAIT: